Budaya & Pariwisata
Mengenal Bone Culture, Alasan Bupati Ponorogo Membangun Monumen Reog Ponorogo Di Sampung.
Published
1 tahun agoon
By
rasinews
RASI FM – Bupati Ponorogo memilih membangun Monumen Reog setinggi 126 meter di Kecamatan Sampung di karenakan adanya peradaban bone culture disana. Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan, ada sejarah panjang dengan keberadaan Kecamatan Sampung dimana pada 5.000 tahun sebelum Masehi di Sampung telah memiliki peradaban yang disebut Bone Culture, dimana masyarakat pada saat itu telah memiliki tehnologi tinggi untuk mengolah tulang menjadi sekeras besi untuk peralatan kerja seperti dibuat kapak untuk membelah kayu maupun penggunaan tulang untuk peralatan dapur untuk memasak.
”Ada Sampung Bone Culture, sebuah peradaban 5.000 tahun sebelum masehi sudah ada peradaban tinggi ada peralatan dapur menggunakan tulang., Tulang serapuh itu bisa digunakan untuk alat masak dan membelah kayu, ini sebuah teknologi yang dahsyat bagaimana bisa memanaskan tulang sekian derajat kemudian menjadi tulang keras. Ada teknologi yang luar biasa di masa itu di Sampung,” ujarnya.
Pemilihan pembangunan Monumen Reog Ponorogo di Kecamatan Sampung menurut Sugiri juga karena memiliki lokasi strategis yang terkoneksi dengan Kabupaten Magetan dengan destinasi wisata Sarangan, Tawangmangu, Madiun dan juga dengan Kabupaten Pacitan dengan destinasi wisata lautnya. Dengan interkoneksi tersebut Monumen Reog Ponorogo tak hanya berdiri sendiri tetapi bersama dengan daerah di sekitar Ponorogo menghidupkan destinasi wisata di wilayah masing masing yang dampaknya akan mempengaruhi perkonomian masyarakat.
“Wisata itu tidak bisa berdiri sendiri, maka kami harus kolaborasi dengan Magetan dengan Pacitan nanti terintegrasi dengan Sarangan. Kalau jalur Ponorogo diambil dari Madiun menuju Kota Ponorogo bisa ditempuh 1 jam dan padat maka saya memilih Sampung diintegrasikan dengan Sarangan dan Tawangmangu dengan Wonogiri, maka kolaborasi Mataraman ini keren,” imbuhnya.
Menurutnya konsep bersama sama akan sangat menarik bagi wisatawan karena mereka akan mendapat paket yang tidak hanya reog, tapi bisa hawa dingin, destinasi laut, kuliner yang beragam serta budaya di wilayah mataraman yang beragam.
“Kita punya sarangan dan ngebel milik bersama sama , kita punya hawa dingin di tawang mangu, kita punya reyog memang milik ponorogo tapi milik bersama sama, maka konsep bareng ini kita rumuskan bersama sama agar semataraman ini mampu membentuk konsep yang komplit, dagangan kita budaya, laut, dingin kalau ada wisatawan datang tidak hanya mendapatkan budaya saja tapi mendapatkan alam, mendapatkan keramahan, mendapatkan budaya, mendapatan kuliner. Pulang wisata terkesan kalau Mataraman itu komplit kaya akan khasanah budaya,” ucapnya.
Monumen Reog Ponorogo yang dibangun di Desa Sampung, Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo saat ini telah mencapai lebih dari 85 persen. Pemerintah daerah Ponorogo optimis proyek tersebut akan selesai akhir tahun 2024. (DmS)
VISUAL klik
1,786 total views, 3 views today
You may like

Dalami Proyek Pembangunan Monumen Reog, Penyidik KPK Sambangi Gedung Dinas PUPR Ponorgo.

Fokus Bahas APBD 2026, DPRD Ponorogo Jadwalkan Ulang Pembahasan Raperda Penyertaan Modal ke Perumda Sari Gunung

Kadin Pariwisata Ponorogo Pastikan Pembangunan Monumen Reog Tetap Lanjut Ditengah KPK Dalami Dugaan Adanya Praktek Korupsi dalam Pengerjaannya.

Gelontor Anggaran Rp94 Miliar, Pemkab Ponorogo Kebut Perbaikan Jalan di 167 Titik

Rumah di Ponorogo Tersambar Petir, Genteng Rontok dan Videonya Viral di Media Sosial

Melongok Kebesaran Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari, Lahirkan Tokoh Bangsa dari Tanah Ponorogo


