RASI MEDIA – Temuan sekitar 90 ribu ton beras rusak di gudang Bulog menjadi perhatian serius Komisi IV DPR RI mengemuka dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, meminta Bulog segera mempercepat penyaluran stok beras nasional agar tidak mengalami penurunan kualitas akibat terlalu lama tersimpan. “Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian per 9 Juni 2026, terdapat sekitar 90 ribu ton beras di gudang Bulog yang dilaporkan dalam kondisi rusak dan tidak layak konsumsi,” ujarnya melalui pesan singkat Sabtu (14/9/2026)
Riyono menilai jumlah tersebut harus menjadi peringatan bagi seluruh pihak agar pengelolaan cadangan beras pemerintah dilakukan secara lebih presisi. Menurutnya, ketersediaan stok yang melimpah harus diimbangi dengan manajemen penyimpanan yang baik agar kualitas beras tetap terjaga. “Bantuan pangan adalah bentuk hadirnya negara kepada rakyat kecil. Hadirnya harus menggembirakan dan membantu rakyat. Beras sebagai kebutuhan pokok harus berkualitas prima, tidak boleh ada bantuan pangan yang rusak atau tidak layak diberikan kepada rakyat,” kata Riyono.
Ia menjelaskan, kerusakan beras dapat terjadi akibat masa penyimpanan yang terlalu lama, kualitas gabah atau beras saat masuk gudang yang kurang baik, hingga pengawasan terhadap standar operasional yang tidak berjalan optimal.
Di sisi lain, Riyono mengungkapkan stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Cadangan Pangan Pemerintah sehingga sebagian stok perlu segera disalurkan kepada masyarakat. “Stok beras nasional di gudang sudah bagus, ada 5,3 juta ton beras. Melimpah dan cukup untuk ketersediaan sebagai Cadangan Pangan Pemerintah. Waktunya segera dikeluarkan dan disalurkan untuk bantuan pangan. Jangan terlalu lama disimpan, pasti akan ada masalah,” ujarnya.
Saat melakukan pengawasan ke gudang Bulog Ngawi pekan ini, Riyono juga menemukan adanya kelelawar dan serangga kecil di area penyimpanan. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya perawatan berkala, termasuk fumigasi, untuk mencegah penurunan kualitas beras selama masa penyimpanan. “Pengawasan ke gudang Bulog Ngawi memberikan gambaran bahwa manajemen pengelolaan beras harus ketat, tidak boleh terlambat atau bahkan abai terhadap SOP yang ditetapkan,” tegasnya.
Riyono meminta Bulog memastikan seluruh beras yang disalurkan kepada masyarakat dalam kondisi layak konsumsi. Ia juga menegaskan bahwa beras yang kualitasnya menurun tidak boleh dibagikan kepada penerima bantuan pangan. “Keluarkan dan pastikan beras Bulog layak konsumsi dan berkualitas. Jika ada yang kurang bagus jangan dibagikan kepada rakyat, jika terlanjur maka wajib diganti. Jangan ada kesalahan dalam pelayanan kepada rakyat,” pungkasnya.