RASI MEDIA – Kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan produksi memaksa pelaku UMKM di Magetan mengambil langkah berbeda untuk mempertahankan usahanya. Wahyu, pengusaha kerupuk rambak, memilih memangkas keuntungan. Ia mengaku kenaikan harga plastik, minyak goreng, dan gas telah meningkatkan biaya produksi. Namun hingga saat ini ia memilih mempertahankan harga jual produknya. Menurut Wahyu, langkah tersebut diambil agar pelanggan tidak berkurang. “Kami tetap masih bertahan dengan harga yang ada. Daripada kami menaikkan harga, kami takut konsumen malah berkurang. Jadi sementara kami mengurangi keuntungan dulu,” ujarnya.
Berbeda dengan Wahyu, Sarmini seorang pengrajin sandal dan sepatu kulit yang telah menjalankan usaha selama 35 tahun justru terpaksa menaikkan harga jual. Penurunan penjualan hingga sekitar 50 persen serta kenaikan harga bahan baku membuat penyesuaian harga tidak bisa dihindari. “Yang biasanya Rp50 ribu sekarang jadi Rp60 ribu. Yang Rp70 ribu sekarang jadi Rp80 ribu. Mau tidak mau harus menyesuaikan,” katanya. Ia juga mengaku kondisi usaha saat ini jauh lebih berat dibanding beberapa tahun lalu. “Tahun-tahun ini penjualan mengurang sekali. Pedagang-pedagang semuanya mengeluh karena kalah dengan penjualan online,” tambahnya.
Meski menempuh cara berbeda, keduanya memiliki harapan yang sama, yakni mempertahankan usaha agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat. Wahyu bahkan mengaku khawatir kenaikan harga kebutuhan pokok akan semakin menggerus keuntungan usahanya. “Kalau kebutuhan pokok naik semua, orang tentu akan lebih mengutamakan belanja kebutuhan rumah tangga. Untung kami sudah tipis pasti akan semakin menipis,” ungkapnya.
Namun bagi keduanya, yang terpenting saat ini adalah menjaga usaha tetap hidup dan roda ekonomi keluarga terus berputar.