RASI MEDIA – Sebanyak 28 sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Kabupaten Magetan, Jawa Timur belum mampu memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Magetan meminta seluruh sekolah negeri memperkuat inovasi dan membangun keunggulan masing-masing agar kembali diminati masyarakat. Sekretaris Dikpora Kabupaten Magetan Dian Astuti Purwandani mengatakan, sekolah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama dalam menarik minat masyarakat. Menurut dia, setiap sekolah harus memiliki program unggulan yang menjadi identitas. “Kami meminta semua sekolah untuk bersama-sama berbenah. Sudah saatnya sekolah tidak hanya meneruskan kebiasaan yang lama. Yang paling penting sekarang adalah inovasi, karena masyarakat sudah cerdas dan orang tua bisa membandingkan sekolah mana yang dianggap terbaik untuk anaknya,” ujarnya ditemui diruangkerjanya Kamis (16/7/2026)
Dian menilai setiap sekolah memiliki potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari olahraga, literasi, hingga penguatan pendidikan karakter dan keagamaan. Potensi tersebut harus dikemas menjadi daya tarik sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan, tidak hanya berfokus pada sekolah-sekolah favorit. “Program-program sekolah yang baik harus ditonjolkan. Kalau ada sekolah yang unggul di olahraga, silakan diperkuat. Kalau punya potensi di literasi, ya dikembangkan. Yang penting masyarakat tahu bahwa setiap sekolah negeri memiliki keunggulannya masing-masing,” imbuhnya.
Selain mendorong inovasi di sekolah, Dikpora juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Dewan Pendidikan, PGRI, MGMP, hingga organisasi perangkat daerah lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dian optimistis langkah tersebut mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar kualitas sekolah negeri terus meningkat dan ke depan persoalan kuota siswa ini tidak terus terulang,” kata Dian.
Sebelumnya sebanyak 28 dari 39 SMP Negeri di Magetan gagal memenuhi kuota siswa akibat ketatnya persaingan dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan pondok pesantren, penurunan demografi lulusan SD, serta kendala geografis di wilayah pinggiran. Masalah ini diperparah oleh pola pikir masyarakat yang tetap memburu sekolah favorit di pusat kota dan ketidakseimbangan antara total pagu daya tampung dengan jumlah riil lulusan sekolah dasar. Guna mengatasi kekosongan massal ini, Dinas Pendidikan setempat terpaksa membuka pendaftaran jalur luar jaringan (offline) secara langsung di sekolah-sekolah yang kekurangan murid demi menekan angka putus sekolah. Hingga masa pengenalan masa sekolah ke 28 sekolah masih belum memenuhi kuota siswa.