Connect with us

Politik & Pemerintahan

Kekerasan Seksual terhadap Anak di Ponorogo Masih Mendominasi Kasus Kekerasan yang Dilaporkan ke Dinas Sosial

Published

on

Kekerasan Seksual terhadap Anak di Ponorogo Masih Mendominasi Kasus Kekerasan yang Dilaporkan ke Dinas Sosial

RASI MEDIA – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Ponorogo mencatat anak-anak masih menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban kekerasan sepanjang semester pertama 2026. Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak Dinsos P3A Ponorogo, Aida Fitria Miasari, mengatakan hingga 30 Juni 2026 pihaknya menerima 38 laporan. Dari jumlah tersebut, delapan laporan tidak mengandung unsur kekerasan sehingga kasus yang ditangani berjumlah 30. “Sampai dengan 30 Juni kemarin, laporan yang masuk ada 38. Yang tidak ada unsur kekerasannya delapan kasus, sehingga kasus kekerasan yang kami tangani sebanyak 30 kasus,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga:  Kunjungi DPC PDIP Magetan, Ini Yang Disampaikan Johan Budi.

Dari 30 kasus tersebut, sebanyak 27 korbannya merupakan anak-anak dan sembilan korban perempuan dewasa. Aida menyebut kekerasan seksual masih menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi. Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan 2025, saat Dinsos P3A menerima 59 laporan, yang setelah diverifikasi terdiri atas 47 kasus kekerasan dan 12 laporan bukan tindak kekerasan. “Yang tertinggi masih kekerasan seksual pada anak,” katanya.

Baca Juga:  Ke Magetan Wamendagri Ribka Haluk Berharap PSU Aman dan Cukup Sekali.

Menurut Aida, kekerasan seksual yang ditangani tidak hanya berupa persetubuhan, tetapi juga pelecehan seksual, penyebaran konten pornografi, hingga eksploitasi melalui media sosial. Berdasarkan hasil pendampingan, sebagian besar kasus berawal dari penggunaan telepon genggam dan media sosial yang tidak diawasi orang tua. “Kalau kami melihat kronologi kasus, kebanyakan memang berawal dari HP. Sekarang anak TK saja sudah memegang HP, bahkan ada yang sudah punya media sosial sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:  Hasil Laboratorium Tidak Ditemukan Bakteri di Menu MBG, Satgas MBG Magetan Perintahkan SPPG Jaga Kebersihan Alat Masak.

Karena itu, Dinsos P3A terus mengintensifkan edukasi kepada orang tua, sekolah, dan masyarakat agar lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak. Aida mengingatkan pelaku umumnya menjalin kedekatan dengan korban melalui media sosial sebelum melakukan eksploitasi dan pemerasan. “Orang tua harus mengawasi penggunaan HP anak. Jangan hanya memberikan fasilitas, tetapi tidak melakukan kontrol. HP memang sudah menjadi kebutuhan anak untuk belajar, tetapi kewaspadaan orang tua harus ditingkatkan,” tuturnya.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM