Connect with us

Kesehatan & OlahRaga

Cerita Relawan TBC, Pahlawan Sunyi di Balik Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis.

Published

on

Cerita Relawan TBC, Pahlawan Sunyi di Balik Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis.

RASI MAGETAN – Di balik gencarnya upaya pemerintah memberantas Tuberkulosis (TBC), ada kisah relawan pendamping minum obat yang jarang terdengar. Mereka bukan tenaga medis, melainkan perempuan-perempuan biasa yang rela mengetuk pintu rumah, mendengarkan keluhan, mengantar pasien ke puskesmas, hingga menanggung risiko ditolak, dicibir, bahkan kehilangan orang yang mereka dampingi. Semangat mereka lahir dari kepedulian hati, bukan sekadar tugas.

Puspo Dyah Pramuwati menjadi salah satu wajah perjuangan itu. Ia mengawali perannya sebagai kader dengan semangat sederhana, yaitu membantu orang sakit. Setiap kali mendengar suara batuk yang tak kunjung reda, ia langsung mengingat pesan radio bahwa batuk lebih dari dua minggu bisa menjadi tanda TBC. Trauma sempat menghantam ketika pasien yang ia dampingi meninggal dalam proses pengobatan, namun Puspo memilih bangkit. “Saya memastikan TBC bisa sembuh, asal pengobatan dijalani tertib selama 6–8 bulan,” ujarnya.

Baca Juga:  KPU Magetan Pastikan Hari Terakhir Distribusi Logistik Pemilu 2024 Terkirim ke Semua Kecamatan.

Kisah berbeda datang dari Suparni, kader asal Karangrejo. Air matanya pecah ketika ia mendapati pasien meninggal, meninggalkan istri dengan gangguan jiwa dan tiga anak kecil. Beratnya pengalaman itu tidak membuatnya mundur. Ia justru aktif memeriksa kondisi lingkungan warga binaannya agar bebas dari faktor risiko TBC, seperti rumah yang lembap dan minim ventilasi. “Tugas kader itu bukan hanya mendampingi pasien, tapi juga memastikan lingkungannya sehat,” tegasnya.

Baca Juga:  Sukses Gelar Bupati Magetan Cup Road Race Championship 2023, IMI Magetan Semoga Lahir Mario Baru.

Sementara itu, Sukanti pernah mengalami pengalaman menegangkan ketika dilaporkan ke polisi karena tidak berkoordinasi dengan desa saat investigasi kontak pasien TBC. Ia juga sempat jatuh bangun dikejar anjing peliharaan pasien. Meski begitu, Sukanti tak patah semangat. Baginya, melihat pasien sembuh menjadi hadiah terbesar. “Kalau saya berhenti, siapa lagi yang mau membantu?” katanya mantap. Para relawan sadar, TBC bukan hanya soal penyakit, melainkan juga persoalan sosial yang butuh dukungan penuh dari masyarakat (DmS)

Baca Juga:  Remaja di Desa Selosari Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar, Diduga Tersengat Listrik

Loading

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM