Connect with us

Kesehatan & OlahRaga

Angka Kematian Akibat TBC di Magetan Dilaporkan Turun Drastis, dari 26 Pasien Meninggal Menjadi 4 Pasien Meninggal.

Published

on

Angka Kematian Akibat TBC di Magetan Dilaporkan Turun Drastis, dari 26 Pasien Meninggal Menjadi 4 Pasien Meninggal.

RASI FM – Dinas kesehatan Kabupaten Magetan melaporkan angka kematian akibat penyakit TBC tahun ini turun drastis dibandingkan dengan tahun 2023. Agus Yudi Purnomo, epidemolog Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, mengatakan, hingga pertengahan Bulan Juli korban meninggal akibat TBC tercatat 4 orang, sementara tahun 2023 tercatat 26 orang meninggal dunia karena TBC.

“Sudah turun, tahun lalu angka kematian kita cukup tinggi, Tahun ini yang meninggal hingga pertengahan tahun hanya 4 orang, tahun lalu 26 orang ,” ujarnya.

Baca Juga:  Camat Ngariboyo Berjanji Akan Bangunkan Rumah Nenek Pairah Yang Terancam Roboh.

Yudi Purnomo menambahkan, penurunan jumlah kematian akibat TBC di Kabupaten Magetan disebabkan cepatnya penemuan dan penanganan terhadap pasien TBC. Tahun ini Kabupaten Magetan mendapat bantuan alat X Ray Mobile untuk mendeteksi organ paru paru pasien yang terduga menderita TBC agar cepat mendapatkan penanganan.

“Kenapa ini turun, karena kita bisa menemukan lebih dini. Jadi penemuan penderita TB lebih dini pengobatannya lebih berhasil. Semakin terlambat usainya semakin tua kondisinya semakin lemah maka kemungkinan sembuhnya semakin kecil,” imbuhnya.

Baca Juga:  Di tengah Ribuan Peternak Kesulitan Pakan, Hanya 2 Asosiasi di Magetan Yang Bisa Ajukan Kuota Jagung Import.

Dengan adanya bantuan peralatan X Ray portable Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan ditargetkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap 1.662 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TBC. Dari 1.662 target yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan menemukan 592 orang dengan TBC yang saat ini telah melakukan pengobatan.

”Dari 1662 itu kita sudah menemukan 592 , yang sudah menjalani pengobatan 590 atau 99 persen. Teknis pengobatan menggunakan DOTS. Tuberkulosis resisten obat itu 6 bulan. Dua bulan fase intensif 4 bulan fase lanjutan. Yang resisten obat dengan regimen lama itu bisa setahun dua tahun tergantung kondisi pasiennya. Tpi yang regimen baru itu juga 6 bulan. Pipal namanya. Kalau tercapai pencegahan TBC untuk mereka yang kontak erat yang mengalami infeksi laten TBC itu 3 bulan berturut turut seminggu hanya sekali,” pungkasnya. (DmS)

Baca Juga:  Lari Sejauh 13 Kilometer, Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping Kampanyekan Olah Raga dan Hidup Sehat.

 1,265 total views,  12 views today