RASI MAGETAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan menyebutkan cakupan pemeriksaan kesehatan masyarakat hingga akhir November 2025 baru mencapai 27,37 persen atau sekitar 188.603 penduduk. Angka ini masih jauh dari target akhir tahun yang dipatok 35–36 persen. Kepala Dinas Kesehatan Magetan, Rohmat Hidayat , mengatakan rendahnya capaian ini mempengaruhi masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini penyakit. “Sebagian masyarakat merasa tidak perlu, tidak butuh. Mereka belum menyadari pentingnya deteksi dini. Pola pikir menjaga kesehatan sebelum sakit itu belum muncul,” ujarnay ditemui diruang kerjanya Selasa (9/12/2025)
Menurut Rohmat, sebagian warga juga enggan diperiksa karena takut hasil pemeriksaan diketahui penyakit yang lebih berat. “Ada yang tidak mau. Mereka bilang kalau sakit bisa mendapat fasilitas. Kalau periksa gratis kok malah tidak mau. Ada juga yang takut kalau ketahuan penyakit lebih berat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan capaian screening, termasuk menyasar kelompok sasaran yang mudah dimobilisasi. “Kami tetap beri penjelasan, sosialisasi. Kami turun ke desa-desa, membuka layanan di setiap desa, mengundang masyarakat untuk datang. Kami juga screening di sekolah SD sampai SMA, pondok pesantren, bahkan malam hari seperti di Temboro setelah pengajian,” jelasnya.
Rohmat menyebut bahwa kelompok usia dewasa—18 tahun ke atas—menjadi yang paling banyak menolak pemeriksaan kesehatan. Padahal, hasil screening nantinya akan terintegrasi dengan aplikasi Satu Sehat Kementerian Kesehatan, sehingga rekam medis masyarakat dapat diakses oleh fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Jenis pemeriksaan yang dilakukan cukup lengkap, mulai dari pemeriksaan darah, Kolesterol, hepatitis, hingga pemeriksaan tambahan bagi usia di atas 40 tahun. Total terdapat 24 item screening yang disesuaikan dengan kelompok usia, mulai bayi, balita, usia sekolah, hingga dewasa. “Di aplikasi Satu Sehat nanti muncul hasil laboratorium, riwayat pemeriksaan, dan risiko penyakit seperti stroke atau jantung. Dengan rekam medis elektronik, dokter bisa lebih cepat menentukan penanganan awal, terutama pada kasus gawat darurat,” pungkasnya.