Rasi Fm – Selama masa pemberlakuan PPKM Darurat, banyak para pedagang kaki lima di Kabupaten Magetan yang tidak maksimal mengais rejeki karena sejumlah pembatasan yang diberlakukan. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Diana Amaliyah Verawatiningsih atau akrab dipanggil Sasa mengatakan, omset pedagang kaki lima di Magetan turun hingga 50 persen karena banyak pedagang kali lima di Magetan yang tidak memahami sistem pesan antar karena banyak pedagang yang tidak memahami memanfaatkan tekhnologi gadget. Minimnya sosialisasi pemberlakuan PPKM Darurat membuat pedagang kaki lima mengira bahwa mereka dilarang berjualan.
“ Saya mendapati omset mereka itu menurun sampai 50 persen lebih selama PPKN. Terutama mereka yang tidak akrab dengan layanan pesan antar. Para pedagang punya HP, bisa WA tapi belum faham bagaimana memanfaatkan untuk menaikkan omset dari jasa pesan antar, padahal kan pesan antar adalah solusi pedagang makanan di kala pandemi karena mobilitas orang keluar rumah berkurang cukup signifikan. Kemudian masyarakat masih banyak belum paham bahwa jasa jual makanan masih bisa buka sampai jam 8 malam itu bisa dibungkus dibawa pulang. Dikira semua wajib tutup. maka Banyak pedagang yang kemudian menutup warungnya masyarakat juga mengira warung makanan jadi di sini ada miss informasi gitu,” ujarnya.
Politisi pdip tersebut sempat membeli dagangan pada pedagang kali lima untuk disalurkan kepada warga yang melakukan isoman untuk membantu kebutuhan makan mereka. Dia mengaku bahwa langkah njajan dari para pedagang kaki lima tersebut bukan solusi bagi pedagang kaki lima di masa pemberlakuan PPKM Darurat, namun jika gerakan tersebut dilakukan oleh OPD terkait dengan melibatkan pedagang kaki lima untuk membantu warga yang isoman, maka sistem tersebut tentunya akan membantu kedua belah pihak.
“ Sebenarya apa yang saya lakukan itu bukan solusi final, hanya sementara, tidak menyelesaikan masalah. Saya berharap ditingkat Kabupaten pengambil kebijakan melalui Dinas kesehatan itu bisa koordinasi dengan dinas sosial dengan satgas di desa untuk memberikan bantuan makanan matang bagi keluarga yang melakukan isolasi mandiri, jadi berdayakan warung yang ada sehingga mereka tetap ada penghasilan gitu selama PPKN,” imbuhnya.
Kurang maksimalnya edukasi dan sosialisasi pemberlakuan PPKM membuat masyarakat tidak maksimal memahami aturan yang diberlakukan pemerintah, sehingga membuat tujuan dari pembatasan aktifitas masyarakat untuk mencegah penyebaran virus covid 19 justru menimbulkan permasalahan social baru. (DmS)