News
Dua Pendaki Pemula Tersesat di Jalur Ekstrem Lawu, Berhasil Dievakuasi Selamat
Published
1 bulan agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Dua pendaki pemula, Clarisa Pradanita Erdianto (24) dan Rara Rintan Purwadi (19), warga Kabupaten Ngawi dilaporkan tersesat saat mendaki Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu pada Jumat (10/4) malam. Keduanya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah tim gabungan melakukan evakuasi pada malam hari.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, mengatakan insiden bermula saat kedua pendaki berhasil sampai di kawasan kawasan puncak dan sempat mengunjungi sejumlah situs seperti sendang drajat hingga di padang sabana. “Mereka jalan-jalan di puncak, kemudian sampai di Sabana, lalu mau kembali dengan mengikuti jalur yang ada pita. Jalur itu ternyata mengarah ke Singolangu, jalur lama kegiatan Seksorogo. Mereka tersesat ke situ,” ujarnya melalui sambungan telepon Sabtu (11/4/2026)/
Mulyadi menambahkan, Clarisa dan Rara baru menyadari telah keluar jalur saat berada di sekitar Pos 3 Singolangu menjelang magrib. Namun karena kondisi fisik yang sudah lelah dan jarak yang cukup jauh, keduanya memutuskan tetap melanjutkan perjalanan. “Ketika menyadari salah jalur mereka sudah capek dan jauh. Akhirnya tetap melanjutkan karena optimis mengikuti pita-pita jalur lama itu,” imbuhnya.
Beruntung, saat berada di Pos 5, keduanya sempat mendapatkan sinyal dan mengirimkan titik lokasi kepada keluarga. Laporan tersebut kemudian diteruskan ke Polsek Plaosan yang langsung berkoordinasi dengan Perhutani dan relawan. “Setelah laporan masuk, kami bersama Polsek dan relawan langsung bergerak. Mereka sempat kirim lokasi terakhir di sekitar Pos 2. Sekitar pukul 20.30 WIB, pendaki berhasil kami temukan dan langsung kami evakuasi turun dalam kondisi selamat,” kata Mulyadi.
Mulyadi mengungkapkan, kedua pendaki tersebut baru pertama kali melakukan pendakian hingga sejauh itu, sehingga belum memahami karakter jalur di Gunung Lawu. Ia menegaskan bahwa jalur yang dilalui keduanya tergolong ekstrem karena jarang digunakan oleh pendaki dan tertutup vegetasi, sehingga berisiko tinggi bagi pendaki, terutama pemula. “Baru sekali naik, jadi belum paham medan. Mereka juga tidak tahu kalau itu jalur berbeda. Jalur Singolangu termasuk ekstrem karena masih banyak vegetasi dan jarang dilalui pendaki,” imbuhnya.
Pihak Perhutani pun mengimbau seluruh pendaki agar tidak berpindah jalur danb mencatat nomor kontak darurat di basecamp saat6 diberikan briefing kepada pendaki sebelum melakukan pendakian, guna meminimalisir risiko kejadian serupa. “ Stiaop pendaki kita briving untuk tidak pindah jalur dan mencatat nomor kontak darurat yang bisa dihubungi jika terjadia sesuati. Ada beberap titik yang ada sinyal seperti pos 5 ada sambungan wifi sehingga pendaki bisa menghubungi nomor darurat,” pungkas Mulyadi.
267 total views, 3 views today


