RASI MAGETAN – Pemerintah Kecamatan Plaosan mulai memaksimalkan peluang ekonomi bagi petani lokal melalui sinkronisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kebutuhan pasokan bahan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Camat Plaosan, Dian Maheru, mengatakan, pihaknya menyiapkan skema kerja sama antara SPPG dan kelompok petani, khususnya kelompok usaha sayur, dengan sistem kontrak atau MOU agar rantai pasok berjalan aman dan berkelanjutan. “Kami rencanakan empat SPPG akan kami kumpulkan. Jadi kami ajak bicara SPPG dulu untuk kerjasamanya seperti apa. Setelah model kerja sama disepakati, baru kita pertemukan dengan kelompok petani,” ujar Dian.
Ia menegaskan, sejak awal pemerintah kecamatan mengedepankan sistem MOU, bukan kesepakatan lisan. “Jangan karena sama-sama dari program pusat lalu ikut-ikutan tanpa ada kepastian. Harus tertulis,” tegasnya.
Menurut Dian, potensi terbesar Plaosan berada pada sektor sayuran, mencakup kubis, wortel, kentang, buncis, dan sawi. Pola pasokan akan disesuaikan dengan menu bulanan SPPG. “Misalkan SPPG mau masak sup empat kali sebulan, berarti seminggu butuh pasokan kobes, wortel dan lainnya. Itu nanti dipasok dari teman-teman petani,” jelasnya.
Camat Plaosan juga menegaskan pentingnya pengawasan standar kualitas. “Kalau SPPG minta wortel mulus tanpa bercak hitam, maka itu harus menjadi standar mutu. Jangan sampai bahan layu atau rusak karena bisa berdampak buruk,” ujarnya.
Ia menegaskan tujuan besar dari kolaborasi ini adalah tercapainya “MBG Effect” di Plaosan. “MBG Effect itu yang pertama angka stunting turun, gizi anak tercukupi, lapangan kerja terbuka, pendapatan petani meningkat. Itu tujuan akhirnya,” jelasnya.
Rencana ini masih dalam tahap penyusunan konsep, namun Camat mengaku sudah lama membuka wacana tersebut saat monitoring pembangunan wilayah. Daerah yang dibidik untuk menjadi pemasok awal yaitu Desa Dadi, Desa Ngancar, Desa Pacalan, dan Sarangan, karena wilayah itu dikenal sebagai sentra petani sayur. “Siapa yang sanggup dan siap, itu yang kita dorong dulu. Kalau belum sanggup ya tidak masalah, kita utamakan yang siap,” pungkas Dian.
Dengan langkah ini, Kecamatan Plaosan berharap petani lokal menjadi bagian langsung dari rantai ekonomi Program MBG, sehingga manfaatnya bukan hanya pada anak penerima gizi, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.