RASI MAGETAN – Siswa SLB PGRI Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan menunjukkan kemampuan luar biasa melalui penampilan drama musikal Roro Jumreng . Pementasan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya dan tampil memukau di hadapan publik.
Guru SLB PGRI Kawedanan, Nuzula , mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam pementasan ini berawal dari niat sederhana. Meski mengaku sempat ragu karena masih tergolong baru, ia memberanikan diri berangkat dan melatih anak-anak secara intensif. Pengalaman sebelumnya dalam kolaborasi seni nasional menjadi penting dalam proses tersebut. “Alhamdulillah, saat latihan dan tampil, semangat serta antusiasme anak-anak sangat luar biasa. Penampilan mereka berkembang pesat, bahkan beberapa siswa laki-laki sudah terbiasa tampil tanpa mengandalkan mimik,” ujar Nuzula.
Ia memilih drama musikal Roro Jumreng karena pementasan ini melibatkan siswa SLB B dengan hambatan pendengaran dan bicara, serta siswa SLB C dengan hambatan intelektual. Dua ciri yang berbeda ini dipadukan dalam satu cerita agar anak-anak belajar bersatu dan menyampaikan pesan dengan cara masing-masing.
Menurut Nuzula, tantangan terbesar justru muncul saat mengolaborasikan siswa dengan tantangan yang berbeda. Ia pun menerapkan metode latihan berbasis perasaan dan pengalaman, bukan sekadar hafalan gerak. Anak-anak diajak memahami karakter dan merasakan emosi dalam setiap adegan.”Saya tidak memaksa mereka menghafal gerakan. Saya ajak mereka meresapi peran. Ketika perasaan itu muncul, tarian menjadi lebih hidup dan karakternya terasa,” jelasnya.
Proses latihan terbilang singkat, hanya sekitar satu bulan sebelum pementasan. Meski begitu, sebanyak 11 siswa mampu mengikuti latihan dengan baik dan tampil kompak. Nuzula menyebut semangat, penerimaan, serta daya tangkap siswa menjadi kunci keberhasilan.
Tidak hanya fokus pada penampilan, Nuzula juga membuat kostum pementasan secara mandiri dengan melibatkan orang tua dan guru. Ia ingin anak-anak merasakan perhatian dan usaha nyata dari lingkungan sekitar, sehingga mereka terdorong memberikan penampilan terbaik.“Kostum ini kami buat sendiri agar anak-anak merasa dihargai. Mereka tahu ada usaha untuk mereka, jadi mereka juga berusaha maksimal,” katanya.
Nuzula berharap pemerintah dan masyarakat semakin membuka ruang bagi anak-anak difabel untuk tampil dan berkarya, baik dalam acara kebudayaan maupun kegiatan resmi. Ia menegaskan bahwa siswa SLB mampu berkolaborasi dengan siswa sekolah umum dengan syarat mendapatkan pendekatan dan pendampingan yang tepat.“Anak-anak ini sebenarnya bisa memperoleh dan berprestasi. Mereka hanya membutuhkan cara belajar yang sesuai dan perhatian yang lebih intens,” tambahnya.
Lebih jauh lagi, Nuzula menaruh harapan besar agar anak-anak SLB kelak dapat hidup mandiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Melalui seni, keterampilan vokasi, dan pendidikan karakter, ia ingin menanamkan nilai kemandirian sejak dini. “Tujuan utama kami adalah membentuk anak-anak agar mandiri dan berguna bagi orang lain. Seni dan keterampilan ini menjadi bekal penting bagi masa depan mereka,” tutupnya.