RASI FM – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Magetan menyayangkan sejumlah permasalahan siswa yang tidak bisa diselesaikan oleh pihak sekolah tidak dilaporkan ke dinas. Kepala Dinas Pendidkan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Magetan Suwata mengatakan, permasalahan siswi di salah satu SMP yang memilih mogok sekolah selama 3 bulan karena minta dibelikan motor Yamaha FIZ R dan salah satu siswa yang kecanduan Game Online dan memilih membolos selama 1 tahun juga tak pernah dilaporkan sehingga muncul di media.
“Kita berikan warning kepada sekolah sekolah itu. Tidak usah sebulan, seminggu ada anak diindikasikan tidak masuk sekolah itu segera dilaporkan. Itu segera dianalisa kalau tidak bisa diselesaikan disekolah segera dilaporkan,” ujarnya.
Suwata menambahkan, meski ada kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan siswa di sekolah namun pihak sekolah menurutnya harus melapor ke Dinas untuk memantau penanganan masalah yang tidak bisa diselesaikan setidaknya satu minggu pasca permasalahan ditangani pihak sekolah. Sejumlah permasalahan yang tidak bisa ditangani oleh pihak sekolah menurutnya akan dicarikan solusi karena dibutuhkan pendampingan seperti kebutuhan psikiater.
“ Kita nanti bisa mengintervensi lebih banyak, kerjasama dengan psikolog, para pihak, kalau sekolah terbatas. Harapannya sekolah bisa menangani sendiri dulu, tapi ada yang berhasil dan tidak akhirnya beranjut beberapa bulan baru dilaporkan,” imbuhnya.
Suwata memastikan kedua permasalahan siswa yang sempat mencuat dimedia tidak pernah dilaporkan ke dinas karena membutuhkan pendampingan tenaga professional. Terhadap siswi yang membolos 3 bulan karena meminta dibelikan pihaknya memastikan telah melakukan pendampingan dan memastikan siswa harus masuk sekolah. Sementara siswa yang kecanduan game online dan membolos selama 1 tahun pihak sekolah telah mengeluarkan surat mutasi ke Sulawesi meski siswa sendiri hingga saat ini masih berada di Magetan.
” Kemarin kita telah mendatangkan psikolog dimotivasi semoga bisa sekolah kembali. Ada beberapa kasus yang sama tapi bisa kembali seperti kasus di Banjarpanjang kemudian di Parang kita segera tangani akhirnya bisa kembali ke sekolah. Faktornya tidak hanya anak tapi keluarga juga,” ucap Suwata.(DmS)