Connect with us

Budaya & Pariwisata

Dibanderol Rp15 Juta, Batik Motif Ponoragan Ini Penuh Filosofi dan Rumit Dibuat dengan Pewarna Alami

Published

on

Dibanderol Rp15 Juta, Batik Motif Ponoragan Ini Penuh Filosofi dan Rumit Dibuat dengan Pewarna Alami

RASI MAGETAN – Di sebuah rumah sederhana di Jl. Pemuda, Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, selembar batik masterpiece tersimpan rapi. Karya itu dibuat oleh Dian Fajariono atau Nano, pemilik Rumah Batik Fajar Batik. Hampir tujuh bulan waktu yang ia habiskan untuk menuntaskan batik tulis bernama “Sesideman”, yang sarat filosofi dan bercerita tentang legenda Putri Sundul Langit.

Nano menjelaskan, motif burung merak yang mendominasi kain tersebut terinspirasi dari kisah Putri Sundul Langit yang diperebutkan banyak orang, hingga akhirnya memilih satu jodoh dengan syarat tebusan yang belum pernah ada. “Motif ini punya filosofi mendalam. Tebusannya tidak main-main, karena harus menceritakan sesuatu yang belum pernah ada. Jadi batik ini benar-benar satu-satunya,” ujarnya.

Baca Juga:  Virtual Edu Trip, Cara Mojosemi Siasati Tutupnya Destinasi Wisata Dimasa Pandemi.

Keistimewaan lain batik ini adalah penggunaan pewarna alami. Ada empat warna yang dipadukan, yakni biru dari daun nila, kuning dari pohon nangka, cokelat tua, dan hijau dari dedaunan sekitar rumah. Proses pewarnaan dilakukan dengan cara tradisional, direbus selama 5–8 jam agar warna kuat dan tahan lama. Detail bunga bungur, teratai, dan dedaunan yang digoreskan pada kain semakin menambah kerumitan pengerjaan, sehingga karya ini lebih cocok dijadikan koleksi seni, bukan bahan pakaian.

Baca Juga:  Tiga Kades Absen Pengukuhan Perpanjangan Jabatan, 5 Kades di Magetan Tak Dapat Perpanjangan Jabatan.

Pernah ditawar Rp13 juta, Nano belum rela melepasnya. Kini ia memasang harga Rp15 juta untuk karya batik tersebut. Bahkan, ia tengah menyiapkan masterpiece baru dengan cerita pertarungan harimau dan burung merak di atas kain sepanjang 2,5 meter. “Mudah-mudahan bisa rampung tahun depan, biar jadi persembahan untuk Ponorogo,” kata Nano. Baginya, batik tulis bukan sekadar kain, melainkan wujud pengabdian dan cinta pada budaya leluhur Ponorogo. (DmS)

Baca Juga:  Inilah 18 Tempat Wisata di Magetan

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM