RASI MAGETAN – Di usianya yang baru 17 tahun, Bima Bayu Haji memilih jalan yang tak banyak dilirik remaja sebayanya: menjadi pranotocoro, atau pemandu acara adat Jawa. Siswa SMK asal Kecamatan Magetan itu tekun belajar tutur bahasa Jawa halus, dari ngoko, krama, hingga krama inggil—bekal wajib bagi siapa pun yang ingin menjadi pranotocoro.
Bima mengaku ketertarikannya muncul karena faktor keluarga. Sang ayah kini masih aktif mengisi berbagai acara hajatan, sementara Bima perlahan belajar mengikuti jejak itu. “Bapak saya, Pak Joko, juga pranotocoro. Jadi sejak kecil saya sudah akrab dengan bahasa Jawa dan suasana adat,” ujarnya.
Meski baru tiga bulan bergelut dalam pelatihan, Bima sudah merasakan tantangan beratnya. Namun di balik kerumitan itu, ada peluang yang cukup menjanjikan. Sekali tampil, seorang pranotocoro bisa memperoleh bayaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta. “Yang paling sulit itu bahasa. Karena bahasa Jawa banyak sekali ragamnya,” katanya.
Ketua Paguyuban Pranotocoro Kabupaten Magetan, yang kini dipimpin Setyo Nuhari, saat ini tengah aktif merangkul generasi muda. Dalam program pelatihan atau pasinaon yang digelar lima bulan terakhir, tercatat 35 peserta ikut serta, 34 di antaranya dinyatakan lulus. Mereka tak hanya mempelajari tata bahasa, tetapi juga materi paramosastra, renggeping wicoro, ngedibusono hingga teknik membawakan acara adat dengan benar. Setyo menegaskan, pranotocoro bukan sekadar pemandu pernikahan atau hajatan. “Pranotocoro itu mengemban misi menjaga kebudayaan Jawa. Karena lewat bahasa, para pranotocoro bisa melestarikan falsafah dan tata nilai budaya Bahasa jawa,” katanya.
Ia menambahkan, pengurus periode sebelumnya sudah meletakkan fondasi paguyuban. Kini, ia bersama pengurus baru bertekad “membangun tembok dan atapnya” dengan memperkuat pelatihan, pertemuan rutin, hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah.
Upaya ini sejalan dengan visi besar menjaga tradisi di tengah gempuran modernitas. Paguyuban secara rutin terlibat dalam acara budaya, mulai dari Suran, Grebeg Suro, hingga kegiatan tahunan Hari Jadi Magetan. “Kami ingin adik-adik muda tidak hanya bisa tampil, tapi juga memahami makna di balik setiap prosesi adat,” ujar Setyo.
Bagi Bima, perjalanan masih panjang. Ia mengaku baru tahap belajar, namun semangatnya jelas: meneruskan jejak sang bapak, sekaligus menjaga khazanah bahasa Jawa agar tidak punah. “Saya ingin terus mendalami. Karena ini bukan sekadar profesi, tapi juga warisan budaya,” pungkasnya (DmS)