Connect with us

Pendidikan

Sinergi Memberi Makna Program MBG di Magetan untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045

Published

on

Sinergi Memberi Makna Program MBG di Magetan untuk Mewujudkan Generasi Emas 2045

RASI MAGETAN- Makan Siang yang Mengubah Banyak Hal.
Kentang goreng itu mengepul ketika Dewanda, siswa kelas VII di SMPN 1 Magetan, membuka food tray atau nampan makan siang Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia tersenyum kecil karena menu yang disajikan hari ini sesuai dengan yang dia inginkan. Dinampan menu MBG tersaji kentang goreng dengan porsi 4 iris sesuai dengan keinginnya. Dia mengaku sejak kecil memang memiliki kebiasaan tidak makan nasi. Kalau tidak kentang dia mengganti dengan roti untuk makan siangnya. “Kentang digoreng. Karena tidak suka nasi, dirumah juga kentang atau roti.. Dirumah menunya juga seperti ini,” ujarnya usai menyantap menu MBG bersama teman temannya.
Berbeda dengan Dewanda, Muhammad Ridwan siswa dari SMPN 1 Sukomoro justru antusias menampilkan lauknya yang terdiri dari jagung, kacang panjang, buncis, tempe, hingga daging. Ridwan mengaku senang mendapat program MBG karena dia tidak biasa membawa bekal disebabkan orang tuanya dari pagi sudah berangkat bekerja di sawah. Jika lapar, dia mengaku jajan di kantin. Namun kebanyakan menu di kantin tidak seperti menu MBG yang ada sayur dan daging. Sejak MBG berjalan, ia tahu makanan sehat akan datang tepat waktu, dan itu membantu tetap fokus sampai pembelajaran full day selesai pukul 15.00. “Menunya anu, jagung sama kacang panjang, buncis sama tempe, ada ikan sama daging. Enak. Jarang bawa bekal, kadang. Sudah kenyang dari rumah. Biasanya beli di kantin be;I masi,” katanya.
Di ruang kelas, anak-anak duduk bersama, membuka kotak makan, saling bertukar cerita, dan menghabiskan sajian yang sama. Bagi Dewan Pendidikan Magetan, Muries Subiyantoro, budaya makan bersama ini adalah salah satu nilai penting MBG. Di banyak sekolah, makan siang kini bukan jeda biasa. Ia menjadi ruang kebersamaan, ruang edukasi gizi, juga momentum perubahan pola makan. “ terutama kalau ada anak anka yang pola makannya tidak teratur dan sebagainya. Seperti itu. Dengan adanya MBG termotifasi lah untuk pola makan itu menjadi teratur. Yangtidak suka sayur jadi suka sayur kan makannya bareng bareng,” ucapnya.
Dapur-Dapur Baru, Harapan Baru
Sejak Presiden Republik Indonesia Prawbowo Subiyanto menggelar program MBG secara nasional, Magetan menjadi salah satu daerah yang bergerak cepat. Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, menyebut MBG bukan sekedar program makan siang, tapi strategi besar untuk menyemangati Indonesia Emas 2045. “Program MBG ini untuk memenuhi gizi bagi putra-putra kita, untuk menyongsong Genrasi Emas tahun 2025. Dengan adanya MBG ini , ekonomi akan bergerak, dan juga akan menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran,” jelasnya.
Di Kabupaten Magetan, ada 9 dapur MPG telah berdiri, 2 di antaranya beroperasi penuh. Tujuh lainnya baru saja diresmikan Deputi Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Tigor Pangiripuan, dan siap melayani sekitar 24.000 siswa PAUD, TK, SD, SMP hingga setingkat SMA. Namun kebutuhan Magetan jauh lebih besar. Pemantauan dilakukan secara ketat. Komandan Kodim 0804/Magetan, Letkol Inf Hasan Dasuki, turun langsung ke titik-titik dapur per 29 September. ” Operasional di wilayah kita ada 15 titik. Kalau kita estimasikan setiap titik ada 3.000 berarti sekitar 45.000 siswa. Yang jelas kita monitoring proses dari pelaksanaan kegiatan seperti yang disampaikan Bu Bupati tadi higienisnya seperti apa, bahannya, alat alat yang digunakan dan pekerja yang dipekerjaan di SPPG apakah seudah memenuhi dari pengetahuan proses memasknya seperti apa,” uajrnya.
Kepala SMPN 1 Sukomoro, Sukadi, merasakan dampak langsung program MBG bagi siswanya. Siswa lebih bersemangat dan konsentrasi meningkat di jam belajar siang karena kebutuhan gizi terpenuhi dari menu MBG. Mesk demikian sekolah tetap mengizinkan kantin berjualan. ” Kepada bapak ibu pengelola kantin karena mereka juga warag sekolah kita sendiri, dengan adanya MBG tidak menutup kemungkinan untuk tetap berjualan. Artinya mungkin dengan menu yang berbeda atau sajian yang berbeda yang tidak sama dengan menu MBG., Sehingga mereka tetap bisa berjualan tetap menikmati gerak perekonomian di Sukonmoro,” jelasnya.
Namun perjalanan Program MBG di Magetan tak tanpa catatan. Menurut Dewan Pendidikan Kabupaten Magetan Muries Suiyantoro , menu kejenuhan mulai muncul di sekolah yang sudah lebih dulu merasakan MBG. “Kadang ada titik jenuh dari pada siswa ketika menyantap MBG itu. Apalagi menunya itu itu saja seperti ayam itu ayam terus atau menu yang mereka tidak suka sehgingag mereka tidak mau makan dan membiarkan. Saya piker ini pertlu diantisipasi,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen limbah dapur SPPG, terutama yang berada di lingkungan padat penduduk.
Dari Dapur ke Kebun: Ekonomi Lokal Ikut Bergerak
Di Kecamatan Plaosan, Grena dari Yayasan Graha Bhakti Shampati, pengelola salah satu SPPG, menunjukkan bahan-bahan dapurnya saat melakuakn louncing SPPG dibawah yayasannya. Mereka melayani 16 sekolah di Kecamatan Plaosan dengan jumlah 1.934 siswa. Semua sudah siap beroperasi, tinggal menunggu persetujuan BGN.
Grena menyebut petani lokal selalu diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk memasok kebutuhan bahan pangan MBG. Dia mengkau harus ada kejekasan standar pasokan, standar mutu dan kuantitas untuk menjamin keberlangsungan program MBG di Kecamatan Plaosan berjalan dengan bail “ Yang pasti sayur dari sini, kemudian telor, ayam juga dari ini. Masukan dari Pak Camat untuk vokasi strategi monggo silahkan mau produk apa yang jelas secara spesifik, butuhnnya apa, koperasi silahkan bawa kesini,” katanya.
Camat Plaosan, Dian Maheru, ingin mendorong agar produk unggulan kecamatan terserap lebih besar oleh MBG seperti kebutuhan ayam dan kebutuhan sayur. Untuk menjaga standar kualitas, ia menekankan pembentukan kesepakatan antara SPBG, petani, dan pendamping program. Dian Maheru berharap program nasional MBG memiliki MBG efek tak hanya kepada siswa tapi juga kepada masyarakat.
Dari hulu ke hilir, seluruh pihak terlibat, BGN, pemerintah daerah, sekolah, SPBG, TNI, petani, yayasan pengelola makanan, hingga orang tua siswa. Inilah bentuk sinergi lintas sektor yang diharapkan pemerintah pusat menurut Dian Maheru. “ Kita ingin adanya MBG efek .MBG efek itu yang pertama aangka stunting terkurangi, gizi anak tercukupi, lapanagn kerja terbuka, keumidan endapatan petanii meningkat,” Ujar Dian Maheru.
Satgas pengawasan pastikan kualitas menu MBG
Adanya sedikit permasalahan dimana 12 siswa di SDN 2 Kediren, Magetan, harus dirawat jalan karena diduga mengalami keracunan pada 17 Oktober 2025 lalu, adalah hal yang harus diwaspadai. Meski hasil Laboratorium menyebutkan tidak adanya siswa yang keracunan, namun siswa yang dirawat terkontaminasi dari peralatan yang kurang higienis harus menjadi perhatian pelaksanaan MBG mendatang. Muies Subiyantoro mengatakan, Program MBG di Kabupaten Magetan masih relative aman.
Menurut Muries Pemerintah Kabupaten Magetan telah bergerak cepat untuk mencegah adanya kasus dalam penyediaan Menu MBG dengan adanya Satgas pengawasan menu MBG yang diketuai langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Magetan secara EX oficio. Satgas pengawasantersebut menurut Muris Subiyantoto akan membuat SPPG berhati hati dalam control pengawasan kualitas menu MBG “ Kalau di Magetan itu masih aman aman saja, karena kasus di Kediran itu setelah diambil samplenya dan diprriksa itu kan bukan keracunan, tetapi karena alat masak yang tidak steril yang tidak bersih sehingga memunculkan bakteri dan sebagainya. Dari makananya clear, itu membuktikan SPPGnya dapurnya itu sangat berhati hati,: terangnya.
Menuju Generasi Emas 2045
Di lapangan, MBG memang tidak hanya menghadirkan kotak makan berisi nasi, sayur, dan lauk. Ia menghadirkan optimisme. Anak-anak belajar makan teratur, belajar budaya kebersamaan, belajar mencintai makanan sehat. Perekonomian lokal menggeliat dari kebutuhan bahan pokok. Petani melihat peluang baru. Orang tua merasa senang. Sekolah menemukan ritme baru dalam pola pembelajaran full day.
Di tengah perjalanan ini, tantangan tetap ada. Pembangunan dapur, variasi menu, distribusi merata, standar higienitas, hingga manajemen limbah. Namun semua pihak sepakat bahwa manfaat MBG jauh lebih besar daripada hambatannya.
Dan di sebuah kelas di Magetan, Dewanda masih menikmati kentang gorengnya, Ridwan terus menghabiskan buncis dan tempenya, dan ratusan ribu siswa lainnya menikmati makan siang mereka. Dalam sendok-sendok kecil itu, Kabupaten Magetan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar: Generasi Emas 2045 yang berdaya, sehat, dan siap bersaing.

Baca Juga:  Kegiatan Parenting di SD Sukowinangun 2 Mengingatkan Pentingnya Sekolah Inklusi di Magetan.

 774 total views,  3 views today