Pendidikan
Perubahan Pola Belajar Akibat Penggunaan Gadget yang Berlebihan Jadi Penyebab Turunnya Numerasi Siswa Magetan.
Published
7 hari agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Magetan, Seno, menilai program Gasing (Gampang, Asik, dan Menyenangkan) menjadi langkah tepat untuk membenahi rendahnya kemampuan numerasi siswa yang terjadi secara nasional. Seno menegaskan, persoalan lemahnya kemampuan dasar matematika tidak hanya terjadi di Magetan, tetapi sudah menjadi tren nasional yang perlu penanganan serius.“Permasalahan ini tidak hanya di Magetan, tapi nasional. Ada tren kualitas pendidikan yang menurun, terutama numerasi dan literasi anak-anak yang relatif kurang,” ujar Seno.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut telah dibuktikan melalui berbagai indikator, salah satunya hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menempatkan Indonesia pada peringkat rendah dalam kemampuan numerasi.“Data PISA menunjukkan Indonesia peringkatnya masih rendah. Jadi ini memang perlu pembinaan secara nasional, tidak bisa hanya per kabupaten,” tegasnya.
Menurut Seno, rendahnya kemampuan dasar matematika bahkan terlihat pada lulusan tingkat menengah. Ia menyoroti fenomena sederhana seperti kesulitan dalam operasi hitung dasar.“Kalau kita lihat, bahkan lulusan SMA untuk perkalian dan pembagian masih rendah. Ini fakta yang harus kita akui,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah perubahan pola belajar anak akibat penggunaan gadget yang berlebihan.“Pengaruh gadget juga besar. Anak cenderung lebih senang bermain daripada belajar. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” jelasnya.
Seno menyambut baik pelaksanaan program Gasing di Magetan dan berharap program ini bisa menjadi model yang diterapkan lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional.“Saya sepakat sekali dengan pelatihan seperti ini. Harapannya tidak hanya di Magetan, tapi bisa menyentuh daerah lain karena ini masalah nasional,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan yang telah menghadirkan program tersebut dan melibatkan guru serta siswa dalam pelatihan tahap awal.“Alhamdulillah Magetan mendapat kesempatan ini. Kami bersyukur dan siap menindaklanjuti,” kata Seno.
Menurutnya, guru yang telah mengikuti pelatihan akan menjadi motor penggerak di sekolah masing-masing, sekaligus berperan sebagai tutor bagi rekan guru lainnya.“Guru-guru yang sudah dilatih nanti bisa menjadi role model dan tutor untuk mengembangkan metode Gasing di sekolah-sekolah,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan awal, peserta yang dikirim merupakan siswa dengan kemampuan akademik rendah, termasuk beberapa anak berkebutuhan khusus (ABK), untuk mengukur efektivitas metode tersebut.“Kami sengaja mengirim siswa dengan kemampuan akademik rendah, bahkan ada empat ABK. Harapannya bisa terlihat sejauh mana peningkatan dalam 14 hari pelatihan,” ungkapnya.
Seno optimistis metode Gasing mampu meningkatkan kemampuan siswa, mengingat pendekatan yang digunakan menekankan suasana belajar yang menyenangkan.“Selama ini matematika dianggap menakutkan. Dengan metode yang menyenangkan, diharapkan anak-anak tidak lagi takut dan justru tertarik belajar,” katanya.
Ia menambahkan, konsep Gasing yang mengubah pelajaran sulit menjadi mudah dan menyenangkan menjadi kunci dalam meningkatkan pemahaman siswa.“Matematika yang sulit dibuat gampang, yang tidak asik dibuat asik, dan yang tidak menyenangkan dibuat menyenangkan. Kalau anak sudah suka, pelajaran pasti lebih mudah masuk,” pungkas Seno.
167 total views, 3 views today


