Connect with us

News

Pedet Bermata 3 dan Bermulut 2 di Magetan Merupakan Kelainan Langka, Disnakkan: Secara Ilmiah Disebut Dicephaly

Published

on

Pedet Bermata 3 dan Bermulut 2 di Magetan Merupakan Kelainan Langka, Disnakkan: Secara Ilmiah Disebut Dicephaly

RASI MEDIA – Kelahiran seekor pedet berkepala dua di Desa Setren, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, menarik perhatian masyarakat. Namun, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Magetan menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kelainan biologis yang sangat langka dan bukan sesuatu yang bersifat istimewa.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakkan Kabupaten Magetan, drh. Budi Nur Rochman, mengatakan dalam dunia medis dan biologi kondisi tersebut dikenal sebagai polycephaly atau polisefali, yakni makhluk hidup yang memiliki lebih dari satu kepala. Untuk kasus dengan dua kepala yang menyatu dalam satu tubuh, istilah yang lebih spesifik adalah dicephaly atau dicephalic parapagus.

Secara ilmiah, kondisi ini merupakan bentuk kembar siam atau conjoined twins. Jadi proses pembelahan embrio untuk membentuk kembar identik tidak berlangsung sempurna sehingga terbentuk dua kepala dalam satu tubuh. Kejadian ini bukan sesuatu yang istimewa, melainkan termasuk kelainan atau cacat bawaan yang sangat jarang terjadi,” kata Budi, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga:  Prihatin Dengan Harga Klebut Mahal, Siswa SMK Yosonegoro Membuat Klebut Dari Limbah Kertas.

Menurut Budi, kelainan tersebut menyebabkan perkembangan organ tubuh tidak normal sehingga peluang hewan untuk bertahan hidup hingga dewasa sangat kecil. Sejumlah literatur menyebutkan sebagian besar hewan dengan kondisi serupa tidak mampu hidup lama akibat berbagai gangguan pada organ vital.

Baca Juga:  Pelanggaran Lalu Lintas Pemotor Tak Pakai Helm Masih Tinggi di Magetan.

Kalau ditanya apakah bisa tumbuh sampai besar, beberapa literatur menyebutkan umumnya tidak bisa karena adanya keabnormalan pada organ tubuhnya. Tetapi semua kembali kepada kehendak Tuhan. Tuhan Maha Besar, semua kemungkinan bisa saja terjadi apabila memang dikehendaki-Nya,” ujar dia.

Baca Juga:  Gelar Grand Final Apresiasi Duta Generasi Berencana, Dinas PPKB dan PPPA Magetan Dorong Remaja Memahami Akibat Bergaulan Bebas dan Kasus Stunting.

Budi menambahkan, hingga kini belum dapat dipastikan penyebab pasti munculnya kelainan tersebut pada pedet. Secara umum, kondisi itu dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari gangguan perkembangan embrio hingga faktor genetik maupun lingkungan selama masa kebuntingan. Namun, kasus seperti ini tergolong sangat langka sehingga tidak dapat disimpulkan sebagai kejadian yang umum terjadi pada ternak sapi.

 

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM