Connect with us

Budaya & Pariwisata

Lestarikan Burung dan Budaya Reyog, Pengusaha Muda Asal Ponorogo Ini Buat Penangkaran Merak

Published

on

Lestarikan Burung dan Budaya Reyog, Pengusaha Muda Asal Ponorogo Ini Buat Penangkaran Merak

RASI FM – Pengusaha muda asal Kabupaten Ponorogo membudidayakan burung merak untuk melestarikan keberadaannya yang mulai sulit ditemukan di alam. Pengusaha pemilik Renata Farm resmi mengoperasikan penangkaran burung merak di lokasi penangkaran miliknya di Desa Galak, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Wakil Bupati Ponorogo Lisdyarita yang ,membuka langsung penangkaran Renata Farm mengatakan, upaya penangkaran selain melestarikan keberadaan burung merak juga merupakan upaya pelestarian budaya reog. Melalui keigatan penangkaran masyarakat juga harus diedukasi terkait budaya reyog yang memanfaatkan burung merak yang telah rontok bukan dengan cara mencabut bulu burung merak.

“merak itu satu upaya pelestarian budaya juga pelestarian merak juga, satu sisi kita butuh bahan baku burung merak. Kalau semakin banyak menangkar burung merak , dulu kita memakai bulu merak untuk reyog bulunya dicabuti, padahal saat burung merak birahi bulunya rontok, itu yang kita pakai untuk reyog. Sekarang ijin dipermudah asal sesuai dengan syarat, ini akan semakin berkembang ini untuk pelesatarian budaya juga untuk pelestarian merak,” ujarnya.

Baca Juga:  Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Penuhi Syarat Virtual Account, Program MBG di Ponorogo Kembali Berjalan.

Sementara Pemilik Renata Farm Ryan Priyo Handoko mengatakan, penangkaran merak berawal dari kesukaannya kepada burng merak, apalagi Kabupaten Ponorogo memiliki budaya yang tidak bisa lepas dari keberadaan merak. Selain untuk melestarikan budaya reyog dan kelestarian burung merak sendiri keberadaan Renata farm juga akan difungsikan sebagai edukasi kepada siswa sekolah dan masyarakat. Melalui edukasi tersebut diharapkan akan semakin tinggi kepedulian masyarakat terhadaop kelestarian Burung Merak.

Baca Juga:  DPRD Magetan Dorong Budaya Labuhan Sarangan Jadi Momentum Sarangan Berbenah Diri Menjadi Destinasi Wisata yang Bersih dan Ramah Pengunjung.

“Dulu senang saat mekar itu indah sekali. Saya kepikir untuk memelihara. Ketika memelihara ternyata kita harus ngurus ijin, dibantu BKSDA kita akhirnya kita bisa memelihara., Untuk dapat ijin harus ada standarnya. Kalau berkembang banyak kita akan buka edukasi untuk anak anak sekolah agar mereka datang kesini, mereka senang dengan merak,” katanya.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Madiun Agustinus Krisdijantoro mengatakan, pengurusan ijin untuk penangkaran burung merak yang masuk apendik 2 atau daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, namun mungkin terancam jika perdagangan terus berlanjut tanpa ada pengaturan, tidaklah sulit, Bahkan pendaftaran bisa dilakukan secara online. Penangkaran burung merak hijau di wilayah Ponorogo diharapkan akan semakin banyak dilakukan oleh masyarakat dalam rangka pelestarian burung merak.

Baca Juga:  Hari Libur Dimajukan, Pelaku Wisata di Magetan Berharap Masih Ada Wisatawan Saat Pemerintah Himbau Pemudik Tunda Arus Balik.

“Kegiatan bagus, sehingga membuat semangat teman teman dalam kegiatan pelestarian merak hijau di Ponorogo. Ini bagian dari konservasi merak hijau, kami berharap Mas Ryan sukses kedepan dalam pelestarian merak ini,” ucapnya.

Ketua Umum Pelestari Burung Indonesia (PBI) Bagiya Rakhmadi yang turut hadir dalam persmian Renata farm mengatakan, upaya pelestarian burung merak oleh masyarakat akan semakin menjaga kelestarian burung merak liar yang ada di hutan. Dengan semakin banyaknya masyarakat melakukan pelestarian maka semakin mendukung upaya melindungi hewan asli Indonesia yang terancam punah.

“Dengan adanya pelestarian, lutung, merak dan binatang dilindungi lainnya semakin optimis habitat di alam bebas akan terjaga,” ujarnya. (DmS)

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM