RASI MAGETAN – Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Magetan, Sutaji , menyatakan bahwa para penyandang disabilitas netra di Magetan kesulitan mengakses aplikasi perbankan sejak diberlakukannya sistem verifikasi wajah. Ia menegaskan bahwa aplikasi seperti BRImo, BSI Mobile, BCA Mobile, Dana, hingga QRIS kini memungkinkan proses pemindaian wajah agar pengguna bisa masuk. “Kami tidak bisa melakukan verifikasi wajah karena tidak bisa memastikan arah kamera.Akhirnya aplikasi menolak akses,” ujar Sutaji.
Sutaji menjelaskan bahwa sebelumnya anggota Pertuni dapat memakai kata sandi atau PIN untuk masuk ke aplikasi. Namun setelah pembaruan, semua aplikasi memaksa pengguna mengkode wajah sambil berkedip, sehingga penyandang disabilitas netra tidak punya alternatif lain. “Banyak anggota mencoba berkali-kali, bahkan dibantu keluarga, tetap gagal. Sistemnya menolak terus,” jelasnya. Akibatnya, sebagian anggota tidak bisa melakukan transaksi harian, termasuk pembayaran listrik, air, atau transfer untuk usaha kecil mereka.
Ketua Pertuni Magetan ini juga menerima banyak laporan bahwa gangguan akses digital itu berdampak langsung pada pendapatan sebagiannya. Ia menyebut beberapa usaha kecil yang bergantung pada layanan transaksi digital terhenti. “Teman-teman yang melayani pembayaran untuk warga sekarang kesulitan. Aplikasi tidak mau dibuka karena verifikasi wajah tidak bisa dilakukan,” ungkap Sutaji.
Untuk itu, Pertuni Magetan meminta pemerintah dan pihak perbankan menyediakan solusi inklusif bagi penyandang tunanetra. Sutaji menekankan perlunya opsi verifikasi tambahan seperti PIN, kata sandi, atau verifikasi suara. “Kami hanya meminta akses yang adil. Inklusi digital harusnya memastikan semua orang dapat menggunakan layanan perbankan tanpa hambatan,” tegasnya.