RASI MAGETAN – Warga desa Sambirobyong, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur menjaga tradisi leluhur memperingati Maulid Nabi dengan menggelar kenduri pisang yang syarat makna kebersamaan dan rasa syukur. Acara ini berlangsung sederhana, namun penuh nilai spiritual dan filosofi Jawa. Dalam kenduri tersebut, warga membawa pisang berbagai jenis, mulai dari pisang raja, pisang ambon, pisang kluthuk, pisang emas hingga pisang ulin. Buah pisang yang ditata rapi kemudian didoakan bersama oleh tokoh agama dan sesepuh desa. “Pisang melambangkan rezeki, kesuburan, dan persatuan. Dalam satu tandan ada banyak buah, maknanya warga harus selalu rukun dan gotong royong,” ujar Dwi Hermanto Sekretaris Desa Sambirobyong di Masjid Duwur Sabtu (6/9/2025).
Pisang yang dibawa warga dipastikan 2 sisir atau satu tangkup yang diletakkan didalam ember yang dihiasi bunga dibungkus daun pisang dan uang koin. Nantinya pisang yang satu sisir akan dibiarkan dibawa kembali pulang sementara 1 sisir lainnya akan dicampur dengan berbagai pisang dan akan dibagikan kepada warga yang selamatan. “Pisang yang bercampur dari berbagai jenis pisang dibagikan lagi kepada warga sebagai bentuk sama sama merasakan rasa pisang yang berbeda beda sebagai bentuk kebersamaan warga,” imbuhnya.
Harjo Suwarni salah satu warga mengaku jika selamatan pisang merupakan tradisi sudah turun temurun sejak nenek moyang mereka. Tradisi tersebut dipercaya sebagai tolak bala agar desa terhindar dari bencana. “Kami ingin menjaga warisan leluhur. Kenduri pisang bukan hanya soal adat, tapi juga cara kami mengucap syukur kepada Allah,” ucapnya.
Menurut Harjo Suwarni selamatan pisang dilakukan bersamaan dengan digelarnya tradisi gembrungan, yaitu pembacaan Kitab Barzanji (atau Al-Barzanjī) adalah kitab berbahasa Arab berisi riwayat hidup, pujian, serta doa kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab ini ditulis oleh Ja’far bin Hasan Al-Barzanji (w. 1764 M), seorang ulama dari Madinah tersebut dibawakan dengan bersyair dan dilagukan dengan sahuran dari paduan suara biasanya lebih dari 10 orang dengan iringan rebana besar yang diberi nama terbangan besar dan terbangan kecil, gendang besar serta gendang kecil. Barzanji sendiri isinya prosa dan syair yang dibacakan dalam acara keagamaan Maulid Nabi. “Dengan tradisi ini, warga Magetan tidak hanya merawat kearifan lokal, tetapi juga meneguhkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap Harjo Suwarni. . (DmS)