Connect with us

Budaya & Pariwisata

Dua Sumur di Desanya Dijadikan Lokasi Penguburan Tokoh Penting Peristiwa PKI Madiun, Kades Suco Ingin Bangun Destinasi Edukasi Nasionalisme di Desanya.

Published

on

Dua Sumur di Desanya Dijadikan Lokasi Penguburan Tokoh Penting Peristiwa PKI Madiun, Kades Suco Ingin Bangun Destinasi Edukasi Nasionalisme di Desanya.

Rasi Fm – Kepala Desa Suco Didik Haryono mengaku ingin membangun wisata edukasi terkait rasa nasionalisme para korban pembunuhan tokoh tokoh penting pada waktu pemberontakan pki Madiun tahun 1948.

Dia mengatakan, di desanya terdapat 2 sumur tua yang pada waktu itu digunakan untuk menguburkan puluhan warga yang melawan aksi pemberontakan PKI tahun 1948.

Untuk mengenalkan rasa nasionalisme kepada warga atas pahitnya peristiwa pembantaian warga di Sumur Suco oleh PKI tahun 1948 Kades Desa Suco Didik Haryono mengaku akan membagun sejumlah fasilitas edukasi sehingga meski tidak ada penjaga, pengunjung akan mengetahui apa yang terjadi di Suco pada saat itu.

Baca Juga:  Sisihkan Uang Jajan, Anak SLB Magetan Bantu Donasi Untuk Anak Anak Palestina.

Seperti keberadaan gerbong tua yang digunakan untuk mengangkut para korban dari Gorang Gareng ke Sumur di Suco, para wisatawan akan mengetahui dari bangunan deskripsi yang telah dibangun.

“Ketika ada pelajar anak anak atau warga yang datang melihat, tanpa ada guidenya itu sudah bisa membaca tentang bagaimana kekejamannya bagaimana, kemudian kegigihan para korban kenapa disebut pahlawan, suhada itu bagaimana. Tetapi kalau hanya monumen itu saja tidak punya daya tarik, makanya desa yang akan menyiapkan,” ujarnya.

Didik Haryono mengaku sejak 3 tahun lalu dirinya sudah melakukan upaya pembangunan edukasi wisata nasionalisme tersebut, namun sayang milik pemerintahnya lokasi sumur Suci yang merupakan asset milik pemerintah daerah menjadi kendala pengembangan idenya tersebut.

Baca Juga:  Ibu Muda di Ponorogo Melahirkan di Pinggir Jalan Saat Nyari Seblak

Padahal melalui edukasi wisata nasionalisme di desanya warga yang datang akan mendapat pencerahan peristiwa yang terjadi pada tahun 1948 tersebut. Melalui desinasi eduwisata nasionalisme tersebut generasi muda yang tidak tahu akan menjadi tahu bagaimana menjaga rasa nasionalisme dari peritiwa tersebut.

“Kawasan monument itu asset pemerintah daerah. Kalau boleh saya sudah berulang kali bilang kepada bakesbangpol kalau boleh Dana APB Des boleh membelikan galeri foto atau merawat tanaman itu kita siap ambil alih. Ini aturannya tidak boleh. Garuda putus itu patah tahun kemarin kita tidak boleh. Baru ramai baru diganti. Sayapnya putus sampai berbulan bulan baru setelah kita konsultasikan ke camat tidak boleh itu kewenangan pemerintah daerah. Baru setelah kita up di medsos pemerintah daerah baru tergugah. Pemerintah desa ingin tapi terbentur aturan tata kelola keuangan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Cerita Marwan Tentang Tradisi Ziarah Makam Ronggo Galih, Pejabat Datang Secara Sembunyi Sembunyi dan Menyamar.

Eduwisata nasionalisme dari peritiwa pemberontakan PKI tahun 1948 menurut Didik juga sebagai pencerahan kepada masyarakat didesanya sehingga peristiwa kelam tersebut tidak akan terulang kembali, (DmS)

Loading

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM