RASI MEDIA – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds masih menutup jalur pendakian Gunung Lawu menyusul kondisi hutan yang kering dan masih terjadinya kebakaran hutan di sejumlah kawasan. Perhutani belum berani membuka kembali jalur pendakian karena khawatir aktivitas pendaki memicu risiko keselamatan di tengah cuaca panas dan potensi kebakaran. Wakil Administratur Perhutani KPH Lawu Ds Hermawan mengatakan, pihaknya masih memantau kondisi hutan, terutama di kawasan utara Gunung Lawu yang beberapa waktu terakhir kembali mengalami kebakaran. “Untuk saat ini jalur pendakian masih kami tutup karena di wilayah utara masih terjadi kebakaran. Kemarin saja, di kawasan Gunung Ngiliran masih terjadi kebakaran,” ujarnya melalui sambungan telepon, Selasa (13/10/2026).
Menurut Hermawan, kondisi vegetasi di kawasan hutan saat ini sangat kering. Perhutani memilih mengambil langkah antisipasi daripada membuka jalur pendakian, tetapi kemudian menghadapi risiko kebakaran yang mengancam keselamatan pendaki. “Kami tidak mau mengambil risiko. Kondisi di dalam hutan sangat kering. Kalau jalur dibuka dan terjadi sesuatu, risikonya sangat besar,” imbuhnya.
Hermawan menjelaskan, pembukaan kembali jalur pendakian akan mempertimbangkan kondisi cuaca dan kelembapan kawasan hutan. Perhutani menunggu hujan turun secara merata, khususnya di kawasan puncak Gunung Lawu, bukan hanya di wilayah perkotaan atau lereng bawah. “Minimal di atas itu hujan tiga hari berturut-turut. Setelah kondisi memungkinkan dan hutan mulai basah, nanti kami evaluasi lagi. Kami tidak bisa memastikan pembukaan jalur hanya berdasarkan hujan yang turun sebentar di wilayah bawah,” kata dia.
Ia menyebut hujan sempat turun dua kali dalam beberapa pekan terakhir. Namun, hujan tersebut belum menjangkau kawasan puncak sehingga kondisi vegetasi di sejumlah titik masih kering. Perhutani pun meminta petugas melakukan patroli untuk memantau kondisi hutan di kawasan atas. “Kami masih menunggu hujan yang benar-benar membasahi kawasan atas. Kalau hujannya hanya di sekitar Kota Magetan atau wilayah bawah, sementara di puncak belum turun, kondisinya masih berisiko,” ujar Hermawan.
Kebakaran di Ngiliran
Selain mempertahankan penutupan jalur pendakian, Perhutani juga memantau kebakaran yang terjadi di kawasan hutan produksi di wilayah Ngiliran, Kabupaten Magetan, yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi. Hermawan memperkirakan kebakaran tersebut menghanguskan sekitar setengah hektare kawasan hutan. Api diduga merembet dari lahan milik masyarakat yang dibersihkan hingga masuk ke kawasan hutan produksi. “Luasnya diperkirakan sekitar setengah hektare. Lokasinya berbatasan dengan kebun masyarakat. Api dari lahan yang dibersihkan kemudian merembet ke kawasan hutan,” katanya.
Kawasan yang terbakar ditumbuhi beragam jenis vegetasi dengan lapisan serasah atau dedaunan kering yang cukup tebal. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat penjalaran api ketika terjadi kebakaran. Perhutani terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama selama kondisi hutan masih kering. Hermawan menegaskan, keselamatan masyarakat dan pendaki menjadi pertimbangan utama sebelum pihaknya memutuskan membuka kembali jalur pendakian.