RASI MAGETAN – Sebanyak 4.200 ton gula yang disimpan di 5 gudang PG Poerwodadie Kabupaten Magetan, Jawa Timur belum laku dilelang. Hal tersebut berpengaruh pada perencanaan musim tanam tebu petani di Kabupaten Magetan yang akan berakhir di Bulan Agustus ini. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Wilayah Kerja PG Poerwodadie Kabupaten Magetan, Sudaryanto mengatakan, tidak terserapnya gula PG Poerwodadie membuat permodalan mandeg dan petani tidak memiliki modal untuk menanam tebu. “Untuk melanjutkan masa tanam 2025 tersendat dengan macetnya modal ini. Ada 5 gudang gula di Gudang PG Poerwodadie yang belum terserap pasar,” ujarnya di temui di PG Poerwodadie Selasa (12/8/2025).
Manager Akutansi PG Poerwodadie Tri Kartika mengatakan, belum lakunya stok gula di gudang PG Poerwodadi terjadi sejak periode 7 masa pelelangan, dimana lelang gula dilakukan setiap minggu. Hingga jelang pelelangan periode 13 yang akan dilakukan minggu ini belum ada kejelasan pedagang yang berminat membeli gula. “Dari periode 8 hingga periode 13 minggu ini ada sekitar 4.200 ton gula yang masih menumpuk di gudang. Setiap periode itu kita ajukan untuk lelang. Lelang minggu ini belum laku, kita daftarkan lelang minggu berikutnya,” katanya.
Permasalahan macetnya penjualan gula di PG Poerwodadie Magetan menurut Tri Kartika telah disampaikan kepada direksi karena PG hanya memiliki kewenangan untuk memproduksi. “Kita tidak punya kewenangan di penjualan, kewenangan kita hanya produksi. Permasalahan ini sudah kita sampaikan ke direksi,” ujarnya.
Impor gula rafinasi dituding jadi biang kerok.
Macetnya penjualan gula petani di Gudang PG Poerwodadie menurut Sudaryanto dipengaruhi oleh membanjirnya produk gula rafinasi impor yang dilakukan oleh pemerintah pada awal Bulan Februari 2025 lalu. Gula yang seharusnya untuk industri juga beredar di pasaran dengan harga dibawah ketentuan harga yang ditetapkan oleh pemerintah dimana untuk gula petani ditetapkan sebesar Rp 14.500. “Pedagang enggan membeli gula petani dengan harga Rp 14.500 karena adanya gula rafinasi yang telah menyebar di pasar retail dengan harga Rp 12.500,” ucapnya.
Sudaryanto berharap pemerintah bijak dalam penerapan kebijakan impor gula agar gula petani juga bisa terserap oleh pasar. Dia berharap pemerintah menghentikan peredaran gula rafinasi untuk memberikan kesempatan gula petani bisa terserap pasar. “Bukan menghentikan impor, tapi sebaiknya pemerintah impor setelah hitungan PG sudah selesai giling baru dihitung kekurangannya baru impor,” jelasnya.
Waktu terbaik untuk pemerintah impor gula menurut Sudaryanto adalah setelah pabrik gula selesai melakukan giling yang biasanya berakhir antara bulan Agustus sehingga pemerintah bisa menghitung kekurangan gula untuk dilakukan impor. “kalau impor bulan dua pabril belum giling. Kalau PG sudah selesai gilingkan bisa dihitung berapa kebutuhan nasional berapa jumlah impor untuk menutup kekurangan kebutuhan gula,” katanya.
Petani kesulitan modal, lahan tanaman tebu terus menyusut
Sudaryanto menambahkan, beberapa tahun terakhir luas lahan tanaman tebu di Kabupaten Magetan terus menyusut dari 7.000 hektar menyusut menjadi 6.000 hektar dan bahkan tahun 2024 luasan tanaman tebu di Kabupaten Magetan tercatat hanya 3.300 hektar. Dengan macetnya penjualan gula petani diperkirakan akan membuat lahan tanaman tebu kembali menyusut mejadi sawah karena petani kesulitan permodalan untuk tanam kembali. “Tahun 2014 pernah macet, tapi tidak separah ini. Macetnya permodalan petani membuat mereka beralih ke tanaman padi karena musim tanam terbaik hingag akhir Bulan Agustus karena tebu juga butuh panas untuk penguapan. Kalau ditanam musim hujan pertumbuhan tanaman tebu justru kurang baik,” imbuhnya.
DPR RI desak pemerintah beli gula petani.
Dihubungi terpisah anggota DPR RI Komisi IV asal Kabupaten Magetan Riyono Caping mengaku prihatin dengan nasib petani tebu di wilayah kerjanya. Dia mengaku akan mendesak pemerintah untuk membeli gula petnai agar petani bsai melanjutkan masa tanam tebu tahun 2025. “Kita minta kepada pemerintah via BUMN untuk segera membeli gula petani dengan harga HET 14,500. Dalam Rapat Koordinasi Terbatas mengenai gula (Rakortas) sudah diputuskan untuk percepatan pembelian, segera cairkan dana pembelian 1,5 T dari Danantara. Kemudian percepat distribusi ke PG agar bisa ke petani dan stop gula rafinasi yang beredar di pasar rakyat. Kita lagi perjuangkan itu,” ujarnya. (DmS)