RASI MAGETAN – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Riyono Caping, kembali menyerukan perhatian pemerintah terhadap nasib gula petani yang hingga kini menumpuk di sejumlah gudang pabrik gula karena tak terserap pasar.
Politisi yang dikenal sering mengenakan caping tersebut menilai, maraknya peredaran gula rafinasi impor yang diberi tambahan vitamin di pasaran menjadi penyebab utama sulitnya gula petani terserap. “Saat ini ada merk gula rafinasi yang diberi vitamin dijual di market bebas dengan harga Rp17.500 per kilogram. Padahal bahan bakunya impor, dibeli seharga Rp10.000 per kilogram sampai di Indonesia. Ini jelas merugikan petani,” ujar Riyono melalui pesan singkat, Sabtu (16/8/2025).
Riyono menyebutkan, akibat kondisi tersebut, sebanyak 104 ribu ton gula petani senilai hampir Rp1,5 triliun kini menumpuk di gudang pabrik gula milik RNI dan SGN, yang merupakan anak usaha ID Food. Ia mendesak pemerintah segera membeli gula tersebut dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). “Ada yang mau membeli di bawah HET, yakni Rp14.350 per kilogram. Jelas rugi dan tidak sesuai ketentuan,” tegasnya.
Ia juga meminta pemerintah untuk menghentikan impor gula baru. “Gula petani harus prioritas yang dibeli. Gula impor jangan masuk lagi karena akan merugikan petani dan pedagang gula dalam negeri,” lanjutnya.
Menurut Riyono, banjirnya gula rafinasi di pasar rakyat tidak hanya merugikan petani, tetapi juga konsumen. Ia pun mendesak BUMN untuk mempercepat pembelian gula petani dengan mekanisme anggaran dari Danantara. “BUMN harus bergerak cepat, beli gula petani dengan HET, jaminan gula ada di gudang pabrik. Jika pekan ini atau pekan depan anggaran belum juga cair, maka petani akan sangat kasihan,” pungkasnya. (DmS)