RASI MEDIA – Prodi Sanitasi dan Kebidanan Poltekes Kemenkes Surabaya Gelar Penguatan Kapasita Tanggap Darurat Kesehatan Berbasis Partisipatif di Desa Geni Langit, Kecamatan Poncol Kabupaten Magetanuntuk tingkatkan kemandirian warga dalam menghadapi bencana tanah longsor. Kegiatan penguatan kapasitas tanggap darurat kesehatan berbasis partisipatif warga di Desa Genilangit, difokuskan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana tanah longsor yang menjadi ancaman utama di wilayah tersebut.
Ketua penyelenggara kegiatan sekaligus dosen sanitasi Prodi Sanitasi dan Kebidanan Kampus Magetan, Aris Prasetyo, menjelaskan pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan relawan Destana dalam menangani krisis kesehatan saat bencana terjadi. Menurutnya, pada satu hingga tiga hari pertama pascabencana, masyarakat menjadi pihak pertama yang bergerak melakukan pertolongan sebelum bantuan dari luar datang. “Biasanya di dalam tanggap darurat, pada saat terjadinya bencana satu sampai tiga hari itu masyarakat yang bergerak untuk menolong. Dari sinilah kapasitas relawan kita tingkatkan, terutama terkait sanitasi, evakuasi, dan tanggap darurat krisis kesehatan.” Ujarnya.
Karena itu, relawan diberikan pelatihan pencarian korban, pertolongan pertama, triase atau pemilahan korban, hingga teknik evakuasi korban menuju titik aman dan fasilitas kesehatan dasar. Selain itu, peserta juga mendapat materi sanitasi dasar atau WASH (water, sanitation and hygiene), meliputi penyediaan air bersih, jamban, pengelolaan makanan, serta higiene sanitasi guna mencegah munculnya penyakit pascabencana. “Kalau ada bencana biasanya muncul penyakit. Nah, di sinilah kita mencegah terjadinya penyakit sebagai bencana susulan.” Imbuhnya.
Aris menegaskan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari mitigasi bencana melalui penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Desa Genilangit disebut telah memiliki kajian risiko bencana, pemetaan titik rawan longsor, jalur evakuasi, serta rencana kontinjensi dan operasi kebencanaan. “Harapannya nanti teman-teman mampu pada hari pertama ketika terjadi panggilan darurat untuk menangani krisis kesehatan ini.” Ucapnya.
Mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya Kampus Magetan, Lucy Rahmawati, menambahkan masyarakat perlu dibekali kemampuan dasar menangani kondisi darurat secara mandiri. Sebab, bantuan dari instansi lain biasanya belum langsung datang pada hari-hari awal bencana. “Masyarakat ditekankan untuk bisa mengelola dan mengatasi bencana tersebut karena pada hari pertama sampai ketiga mungkin pertolongan dari instansi lain belum turun.” jelasnya
Menurut Lucy, masyarakat perlu memahami lima aspek penting saat bencana, yakni pengelolaan air bersih, instalasi pengolahan limbah, keamanan makanan dan minuman, pengelolaan sampah, serta pengendalian vektor dan binatang pengganggu. Ia juga menekankan pentingnya evakuasi mandiri menuju titik kumpul aman saat longsor terjadi. “Yang paling penting saat bencana tanah longsor adalah pencarian dan pertolongan korban, sanitasi, serta penyediaan makanan dan minuman.” terangnya
Sementara itu, dosen Poltekkes Kemenkes Surabaya Kampus Magetan, Suparji, menyebut pelatihan tersebut merupakan implementasi peningkatan kapasitas relawan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana. “Keterampilan yang harus dimiliki relawan adalah triase atau pemilahan korban, pertolongan korban, termasuk pemindahan korban atau evakuasi ke daerah yang lebih aman.”ujarnya.
Menurutnya, keterampilan utama yang harus dimiliki relawan adalah melakukan triase, pertolongan korban, serta evakuasi dari titik bahaya menuju lokasi aman maupun pengungsian. Ia berharap masyarakat menjadi lebih tangguh dan mandiri dalam menghadapi bencana. “Dengan pelatihan seperti ini, masyarakat diharapkan siap dan tangguh menghadapi kondisi bencana karena minimal bisa menolong dirinya sendiri dan mempercepat penanganan korban saat bencana terjadi,” katanya.
Sekretaris Desa Genilangit, Maryanto, mengaku pelatihan bidang kesehatan sangat dibutuhkan masyarakat karena selama ini warga masih awam terkait penanganan korban dan evakuasi medis saat bencana. Ia menyebut Desa Genilangit sebenarnya telah memiliki pemetaan jalur evakuasi, titik kumpul, dan koordinasi rutin dengan BPBD maupun dinas kesehatan. Namun, peningkatan kapasitas masyarakat tetap diperlukan agar penanganan darurat lebih cepat dan tepat. “Masyarakat di sini masih awam terkait penanganan kebencanaan yang berhubungan dengan kesehatan. Jadi kami bersyukur ada pelatihan peningkatan kapasitas seperti ini.”ujarnya.
Maryanto mengatakan bencana longsor terakhir terjadi pada 2023 meski masih berskala kecil. Sedangkan kejadian longsor besar pernah terjadi beberapa tahun lalu hingga menyebabkan kerusakan bangunan dan korban luka ringan. “Harapan kami, tim Destana desa lebih sigap dan lebih tangguh dalam menangani situasi kebencanaan.”tambahnya.
Ketua Destana Genilangit, Yani, menambahkan wilayah Genilangit yang berada di kawasan pegunungan masih membutuhkan dukungan sarana kebencanaan, seperti alat penyedot air untuk membersihkan material longsor di jalan curam agar tidak memicu kecelakaan maupun bencana susulan. “Kemungkinan karena wilayah kami luas dan berada di pegunungan, kami membutuhkan alat seperti penyedot air agar ketika ada longsor di jalan bisa langsung dibersihkan.”jelasnya.
Ia berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kapasitas relawan sekaligus kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi, termasuk melalui penghijauan dan penguatan lingkungan untuk mencegah longsor. “Dengan adanya peningkatan kapasitas ini, kami akan lebih meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kebencanaan dan penanganannya.” Pungkasnya.