Connect with us

News

Pulang Jadi TKI di Malaysia, Warga Ponorogo di Kerangkeng Karena Gangguan Jiwa yang Membahayakan Keluarga.

Published

on

Pulang Jadi TKI di Malaysia, Warga Ponorogo di Kerangkeng Karena Gangguan Jiwa yang Membahayakan Keluarga.

 

RASI MEDIA  –   Suara Hananto (45) warga Dukuh Janti, Desa Sendang, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terlihat ceria ketika ditanya pengalamannya bekerja di Malaysia. Jawaban sepuluh tahun telah bekerja di Malaysia diiringi dengan tawanya menjadi kontras dengan kerangkeng besi berukuran panjang dua meter, tinggi dua meter, dan lebar satu setengah meter yang dihuninya.   Kerangkeng besi itu ternyata sudah dihuni Hananto sejak tahun 2014.

Belum lepas ingatan warga Ponorogo akan masib Mbah Kirno yang dikerangkeng selama 20 tahun oleh keluarganya karena mengalami gangguan jiwa dan membahayakan keluarga, kini ada lagi Hananto dengan kisah yang kurang lebih sama.

Awal Mula Gangguan

Diana Puspita Sari, adik Hananto, mengisahkan bahwa kakaknya telah mengalami gangguan jiwa lebih dari 25 tahun. Penyakit itu bermula setelah Hananto merantau ke Malaysia usai lulus SMP pada tahun 1997 lalu. Setamat  SMP, Hananto  langsung kerja ke Malaysia, ikut kerja temannya yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Malaysia. “ Sekitar enam bulan kakak kerja di Malaysia. Dari agen Malaysia mengonfirmasi bahwa Mas Hananto mengalami gangguan jiwa,” ujar Diana, ditemui dirumahnya  Senin (2/2/2026).

Dari laporan agen tenaga kerja di Malaysia menyebutkan jika Hananto alih-alih bekerja, dia  justru menunjukkan perilaku di luar kebiasaan. Di Malaysia Hananto sering  melakukan ritual ibadah di luar ajaran Islam yang selama ini dianut keluarganya. Ia juga menolak untuk bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktu tanpa melakukan apa apa.“Akhirnya tidak mau kerja, tidak mau ngapa-ngapain. Di sana hanya cari nomor togel. Akhirnya dipulangkan dari PT,” imbuh Diana.

Baca Juga:  6.000 Peserta BPJS PBI di Magetan Dinonaktifkan, Warga Penderita Sakit Jantung dan Kebutuhan Cuci Darah Bisa Reaktivasi.

Pulang Tanpa Harapan

Kepulangan Hananto ke tanah kelahiran di Ponorogo tidak membawa kabar bahagia seperti Pekerja Migran Indoensai lainnya.  Kondisinya justru semakin memburuk karena dia tidak mau mengurus diri sendiri. Setiap hari pekerjaannya hanya tidur, bangun makan, merokok, serta suka minum minuman bersoda.

Hananto sering menjual apa saja yang ada di rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan beras persediaan untuk makan milik ibunya, dijual. Dia juga menjual  tabung gas, hingga sepeda motor keluarga ikut dijual.  Seiring waktu, uang dan harta keluarga mulai menipis dan habis. “Apa-apa dijual. Semua yang dia temukan dijual. Settlah tidak bisa menjual apa apa dia tidak bisa ngerokok, tidak bisa beli ini-itu, akhirnya ngamuk. Tambah parah,” ternag Diana.

Ikhtiar yang Tak Pernah Usai

Keluarga Hartono tidak tinggal diam melihat perkembangan kejiwaannya yang semakin mengkhawatirkan. Hananto dibawa berobat kee berbagai tempat pengobatan, baik pengobatan secara medis maupun pengobatan secara  alternatif. Namun semua usaha yang telah dilakukan tak membuahkan hasil yang menggembirakan. Setiap kali menunjukkan perbaikan perilaku Hananto, kondisi tersebut  hanya bertahan beberapa bulan.“Sampai rumah kumat lagi. Kalau stres bisa ambil apa saja. Mulai dari senjata tajam, kayu, balok, besi. Awalnya hanya keliling kampung bawa senjata apa saja yang ditemukan,” ucap Diana

Baca Juga:  Pemerintah Pritoritaskan Calon Jemaah Haji Yang Berusia Dibawah 65 Tahun Untuk Berangkat.

Kondisi tersebut tentu saja membuat keluarganya  khawatir. Keluarga akhirnya kembali  membawa Hananto berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Solo. Di Solo Hananto menjalani pengobatan selama hampir 2 tahun. Dia mennjalani perawatan intensif.“ Saat perawatan di  Solo sudah terlihat normal dan sembuh,” kata Diana.

Dengan besar harapan akan kesembuhannya,  keluarga akhirnya membawa pulang Hananto. Namun harapan kesembuhan itu tak berlangsung lama. Perangai  Hananto kembali kambuh, bahkan lebih parah. Keluarga tetap memberinya obat dari rumah sakit berharap efeknya akan mmebuat Hananto tenang, namun  efek samping obat yang dikonsumsi membuat tubuh Hananto bergetar seperti tremor. “ Karena efekny aseperti itu, Mas Hananto akhirnya tidak mau minum obat lagi. Akhirnya tambah parah lagi,” Terang Diana.

Kerangkeng sebagai Pilihan Terakhir

Puncak ketakutan keluarga terjadi ketika Hananto tiba tiba membawa parang dan menyerang anggota keluarga. Dia berusaha menyerang siapapun yang ada saat itu. Diana sendiri saat itu sempat menjadi korban pemukulan. Karena kondisi Hananto semakin membahayakan, keluarga besar sepakat untuk membuatkan kerangkeng.  “Setelah anggota keluarga mau dibacok, akhirnya kami tidak punya  pilihan lain. Supaya tidak ngamuk dan tidak membahayakan orang lain, Mas Hananto dimasukkan kerangkeng tahun 2014-an,” tutur Diana

Baca Juga:  Dari Musrenbang di Magetan yang Dilakukan Perdapil dan Melibatkan Langsung Anggota DPRD, Ini Maksudnya.

Kerangkeng besi menjadi pilihan terakhir keluarga. Keberadaan kerangkeng tersebut menurut Diana bukan untuk menghukum, tetaoi  untuk melindungi keluarga dan ornag lain dari amukan Hananto yang membahayakan jika membawa parang atau balok kayu dan benda besi. Apalagi dirumah banyak ornag yang sudah renta. “Di rumah hanya ada ayah, ibu, dan kakak cewek. Keluarga tidak punya pilihan lain. Kalau ada keluarga yang meninggal, siapa yang mau tanggung jawab,” kata Diana

Di balik jeruji besi, sesekali tawa Hananto terdengar. Hananto bukanlah kriminal. Ia adalah potret nyata keterbatasan keluarga kurang mampu dalam menghadapi persoalan kesehatan jiwa. Kerangkeng besi itu berdiri sebagai simbol keputusasaan, sekaligus jeritan sunyi tentang minimnya pendampingan dan akses layanan kesehatan jiwa berkelanjutan. Hingga kini, Hananto masih menunggu perhatian, menunggu kepedulian, dan menunggu hari ketika hidupnya tidak lagi dibatasi oleh besi, melainkan dipulihkan oleh kemanusiaan dari orang orang yang memahami kondisinya.

 1,127 total views,  3 views today