Connect with us

Budaya

Mengenal Wayang Krucil Tanpa Pakem Dari Magetan Yang Berusia 400 tahun

Published

on

Mengenal Wayang Krucil Tanpa Pakem Dari Magetan Yang Berusia 400 tahun

Rasi Fm – Salah satu kekayaan kebudayaan di Kabupaten Magetan adalah keberadaan wayang krucil di Desa Bedagung Kecamatan Panekan. Wayang yang dipercaya berasal dari sebuah bongkahan kayu yang menolak saat akan dibakar tersebut terakhir kali dimainkan pada akhir tahun 1980 an. Sugeng Hariyanto penerus dari keberadaan wayang krucil tersebut mengatakan, dirinya pernah mengikuti pementasan wayang krucil sebagai penabuh gamelan saat masih sekolah di sekolah menengah pertama.
“Mbah Ditto itu mbahu atau mengerjakan lahan di hutan, terus di membuat perapian dan ada kayu yang hanyut dari Gunung. Saat dia membuat perapian kayu tersebut selalu mundur saat terjilat api. Setiap di majukan kayu tersebut mundur, Kayu tersebut kemudian dibelah didalam kayu tersebut ada 2 wayang termasuk wayang yang terbakar,” ujarnya.
Sugeng Hariyanto mengaku tidak ada pakem yang terdokumentasikan untuk memainkan wayang kruucil baik cerita maupun penabuh gamelan. Kakeknya yang merupakan keturuan terakhir memainkan wayang krucil mengaku, siapapun akan bisa memainkan cerita wayang krucil ketika dibutuhkan untuk memainkan wayang tersebut.
“Saya sudah ikut mainkan gamelan sejak kelas 1 SMP. Setiap siapa saja yang diajak main sudah bisa tanpa latihan. Secara logis nada gamelannya monoton, tapi secara spiritual siapa yang ditunjuk pasti bisa. Cerita itu tidak pernah ditulis, tapi kalau diinginkan dalang itu bisa saja mendalang, seperti orang kerasukan, beliau langsung bisa, Kakek saya pandai mendalang cerita bintal jemur, adamakno andai sekali, Saya pernah berusaha menterjemahkan pasti lupa padahal saya sudah SMP. Kakek saya bilang tiba tiba ya bisa,” imbuhnya.
Sugeng Hariyanto mengaku sejak terakhir kali dipentaskan oleh kakeknya, tidak ada lagi penampilan wayang krucil. Wayang krucil hanya ditampilkan disaat saat tertentu atas permintaan seseorang yang mempunyai nazar atas cita cita mereka yang telah terlaksana.
“ Kira kira kalau benar benar tidak mengetahui sejarah jangan sekali kali memainkan wayang tersebut. Bahayanya nanti kalau syiar Islam tidak pas bisa menyesatkan, Kalau simbah bilang kalau tidak terpilih nanti usianya tidak sampai karena ceritanya memang syiar,” katanya.
Saat ini peralatan seperti gong, kendang serta peralatan lainnya sudah mulai rusak. Minimnya kepedulian masyarakat akan keberlangsungan wayang krucil turut membuat kebudayaan langka tersebut mulai dilupakan. Saat ini Sugeng Hariyanto hanya bisa merawat peninggalan wayang yang diperkirakan telah berusia 400 tahun tersebut. (DmS)

Baca Juga:  Terinspirasi Spirit Perjuangan Maduretno Melawan Penjajah Belanda, Mahasiswa ISI asal Magetan Membuat Kreasi Drama Tari

 141 total views,  3 views today