Connect with us

Pendidikan

Menari, Satu Cara Ungkapkan 1.000 Cinta untuk Difabel Magetan di Hari Kasih Sayang.

Published

on

Menari, Satu Cara Ungkapkan 1.000 Cinta untuk Difabel Magetan di Hari Kasih Sayang.

 

RASI MEDIA  –  Alunan musik mengalir lembut di sebuah ruangan latihan sederhana  di ruangan serba guna milik Dinas Sosial yang berada di Kelurahan Tawanganom, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Lima anak berkebutuhan khusus berdiri berjajar, tangan mereka terangkat, kaki melangkah pelan, tubuh bergerak mengikuti irama, sebagian dari mereka bahkan tak dapat mendengar nada yang mengalun. Namun, dari raut wajah yang berbinar, tampak jelas,  mereka sedang merayakan sesuatu yang lebih besar dari sekedar menari.

Di bulan Februari, ketika banyak orang merayakan Hari Valentine dengan bunga dan cokelat, Sanggar WHY Sebature milik Wahyu yang bermarkas di Desa Sambirobyong, Kecamatan Sidorejop, Kasbupaten Magetan memilih cara yang berbeda. Mereka merayakan cinta melalui gerak. Melalui pelajaran menari. Melalui ruang yang menyenangkan  bagi anak-anak difabel untuk tumbuh dan percaya diri.

Wahyu pemilik Sanggar WHY Sebature, mengaku , membuka ruang latihan tari bagi anak-anak berkebutuhan khusus bukan untuk mencetak penari profesional, melainkan untuk membangun kepercayaan diri, melatih kognitif motorik serta menumbuhkan kegembiraan dalam belajar. “Kita bukan memaksa mereka menari profesional. Yang penting anak itu suka dulu. Kalau suka dan senang, nggak usah diperintah pasti bisa. Mood itu penting. Kalau mood-nya keluar, materi cepat masuk,” ujar Wahyu ditemui ditempat latihan Kamis (12/2/2026)

Bagi Wahyu, tari bukan sekadar estetika. Ia adalah terapi. Ia adalah bahasa cinta. Setiap gerakan yang diajarkan melatih koordinasi antara saraf motorik dan kognitif. Setiap formasi mengajarkan kerja sama. Setiap latihan menjadi ruang sosial yang mempertemukan mereka dalam kebersamaan.

Pilihan belajar menari jatuh pada Tari Semut. Sebuah tarian sederhana yang terinspirasi dari tingkah laku semut. Gerakan kecil, lincah, dekat dengan dunia anak-anak. Kostumnya yang menyerupai semut membuat mereka semakin antusias. “Tari semut diambil dari tingkah laku semut. Tapi beberapa gerakan kita permudah agar mereka bisa mengikutinya. Yang penting mereka menikmati dulu,” imbuh Wahyu.

Dalam empat kali pertemuan, kemajuan mereka mengejutkan. Hanya satu jam seminggu, namun sebagian materi sudah mereka kuasai. “Itu cepat sekali. Kuncinya mereka suka,” jelasnya.

Di ruangan sederhana itu, hari kasih sayang  tidak hadir dalam bentuk kartu ucapan. Ia hadir dalam tepuk tangan kecil, senyum malu-malu, dan keberanian untuk melangkah ke depan.

Baca Juga:  Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026, Intip Kuota untuk Pelajar Magetan di Kampus UNESA.

Menari Tanpa Mendengar, Melihat dengan Hati.

Di atas panggung kecil, lima anak itu tampil untuk pertama kalinya di depan khalayak. Tiga di antaranya merupakan anak dengan disabilitas pendengaran, satu dengan Cerebral Palsi, dan satu anak dengan gangguan perkembangan motorik. Mereka menari mengikuti instruksi visual dari Indriana Dian Kristanti yang berdiri sekitar 10 meter dari panggung.

Sesekali mata mereka menatap tajam ke arah Indriana, membaca gerakan tangan sebagai penanda tempo. Musik mungkin tidak terdengar bagi sebagian besar mereka, tetapi ritmenya terasa melalui getaran dan hafalan. “Mereka anak yang luar biasa. Empat kali latihan sudah bisa menguasai gerak dan menyelaraskan dengan nada,” ujar Indriana.

Bagi sebagaian orang, formasi sederhana itu bukan gerakan yang rumit, namun proses tersebtu  bukan tanpa tantangan. Ada hari ketika satu gerakan pun sulit dikuasai mereka. Ada hari ketika suasana hati menentukan segalanya. “Satu hari kadang cuma bisa satu gerakan. Kalau lagi nggak mood ya sudah. Tapi kalau mood bagus, mereka bisa latihan seharian tanpa henti,” katanya Indirana pelatih menari dari sanggar AHY Sebature.

Jasmine, salah satu penari, tampak bergerak sedikit lebih lambat. Ia mengalami low vision sehingga kesulitan mengikuti instruksi jika jarak terlalu jauh. Biasanya, instruktur berdiri tak lebih dari tujuh meter darinya. “Jasmine kesulitan karena jaraknya agak jauh. Tapi dia tetap semangat,” jelas Indriana.

Menari bagi anak anak difable yang tergabung di Yayasan Abhinaya Gantari Mahika (YAGAMA) bukan hanya sekedar tampil. Mereka ingin  membuktikan tentang keterbatasan bukanlah akhir. Ini tentang ruang untuk menunjukkan kemampuan. Tentang keberanian berdiri di panggung untuk mengatakan kepada dunia bahwa mereka juga bisa.

Ketua Yayasan YGAMA Kabupaten Magetan, Dita, menegaskan bahwa kegiatan menari menjadi terapi sekaligus ruang ekspresi bagi belasan anak yang mereka redam. “Kita rutin latihan menari sebagai  terapi motorik dan kognitif, sekaligus mengasah soft skill mereka,” ujarnya.

Menurut Dita gerak tari mengajarkan disiplin, kerja sama, dan percaya diri. Dalam koreografi sederhana, mereka belajar menunggu moment menciptakan keselarasan koreografi,  memahami aba-aba, dan menyatu dalam harmoni. Di situlah cinta bekerja dalam kesabaran, dalam kekakuan, dalam pelukan ketika latihan terasa berat. “ Kadang ada moment yang berat karena satu dari mereka kehilangan semnagat untuk latihan. Kita memahamkan kepada mereka pentingnya bisa kerjasama karena di kehidupan mereka membutuhkan sosialisasi dengan masyarakat,” jelas Dita.

Baca Juga:  Dinsos Magetan Intensifkan Pengobatan ODGJ, Gandeng RSJ Lawang Malang

4.000 Harapan yang Perlu Dirangkul

Di Kabupaten Magetan, terdapat sekitar 4.000 penyandang disabilitas yang tersebar di berbagai wilayah. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah ribuan cerita tentang penyintas difabel yang menunggu kesempatan dirangkul dan diberi kesempatan. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Magetan, Parminto Budi Utomo, menyebut peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun 2025 kemarin menjadi momentum penting untuk memperkuat mental keluarga penyandang disabilitas. “Kami ingin memberikan hak yang sama. Banyak orang tua merasa kesepian ketika memiliki anak istimewa. Dengan kegiatan seperti kemarin itu kita menyampaikan pesan bahwa  mereka tidak sendiri,” ujarnya.

Parminto mengkau masih adanya stigma yang membuat sebagian anak penyandang disabilitas disembunyikan. Ada orang tua yang pasrah dengan alasan “sudah nasib”. Padahal, potensi mereka sering kali luar biasa jika diberi ruang.

Dalam kesempatan lain, Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memberi ruang lebih luas bagi anak-anak penyandang disabilitas tampil dalam berbagai agenda resmi. Kepedulian terhadap keberadaan difabel  tidak cukup berhenti pada tepuk tangan, tapi perlu diwujudkan dalam kebijakan, dalam akses, dalam ruang panggung yang setara. “Anak-anak penyandang disabilitas juga bisa menari dan tampil. Ke depan akan kami diskusikan agar mereka mendapat kesempatan di setiap kegiatan pemerintah daerah,” ujarnya usai menyaksikan penampilan tarian dalam peringatan HDI di Pendopo Surya Graha beberapa waktu lalu.

Dari Pintu ke Pintu, Menyalakan Asa

Cerita perjuangan untuk pemenuhan hak para penyintas difabel juga ditunjukkan oleh Jumadi, Kepala Sekolah SLB PSM Lembeyan, Kecamatan Lembeyan Kabupaten Magetan. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2010 itu memulai langkahnya dengan tiga siswa dan ruang pinjaman. Perjalanan mereka  tidak mudah, karena harus menggugah kesadaran orang tua secara dari pintu ke pintu menyadarkan  akan pentingnya sekolah bagi mereka. “Banyak yang bilang, buat apa sekolah. Anak kami memang nasibnya sudah begini,” ujarnya.

Baca Juga:  Cerita Kadiyem Calon Haji Tertua dari Kabupaten Magetan.

Namun Jumadi tak menyerah. Ia berjanji kepada orang tua bahwa anak-anak mereka berhak mandiri. Bahwa keterampilan adalah bekal hidup.Di SLB yang dia pimpin merupakan satu satunya sekolah yang ada di Kecamatan Lembeyan berupaya memberikan pelatihan ketrampilan kepada siswa sesuai dengan kemampuan mereka. Di sekolah sejumlah siswa telah berhasil menghasilkan kerajinan seperti membatik ciprat, membuat tas belanja, membuat kerajinan gantungan kunci, tasbih, gelang, kalung dari manik manik. “Kita juga membuka peluang usaha dari kegiatan ketrampilan mereka,” ucap Jumadi

Wahyu (19), siswa kelas 12, menjadi bukti. Dulu ia dikenal sulit diatur. Kini ia mampu menari Bujang Ganong dengan memukau, bahkan tampil di luar kota. Sepulang sekolah, dia juga bekerja di peternakan membantu orang tuanya. “Saya mau jadi pengusaha dan penari sukses,” katanya dengan nada mantap.

Siswa lain, Sulastri (23) juga menunjukkan hal serupa. Ia menguasai huruf braille dalam hitungan bulan setelah sekolah dan kini piawai memijat dari pelatihan yang dia ikuti.  Banyak warga yang datang meminta jasanya untuk dipijat. Mereka belajar bertahan hidup dengan keterampilan. “Setiap tahun ajaran baru kami door to door mengetuk kesadaran orang tua bahwa anak mereka harus memiliki pendidikan dan ketrampilan untuk bertahan hidup. Kita memberi pemahaman setelah orang tua tidak ada, mereka juga harus menjalani hidup. Dengan memiliki ketrampilan mereka akan mandiri,” pungkas Jumadi.

Di momen hari kasih sayang, cinta tak lagi tentang pasangan. Di Magetan, cinta itu tentang keberpihakan, tentang ruang dan tentang kesetaraan.  Di Sanggar WHY Sebature, di YGAMA, di SLB Lembeyan, cinta menjelma dalam gerakan tangan kecil yang tak sempurna, dalam langkah yang mungkin goyah, namun penuh keberanian. Seribu cinta mungkin tak cukup untuk membalas semangat mereka, tetapi satu kesempatan saja untuk mereka  tampil, untuk belajar, untuk dipercaya, bisa mengubah hidup mereka selamanya.

 711 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *