Connect with us

HUMANIS

Cerita Mbah Gunadi Yang Sepi Pelanggan Sol Sepatu Anak Sekolah di Masa Pandemi, Berharap Ada Yang Bantu Belikan Kaki Palsu.

Published

on

Cerita Mbah Gunadi Yang Sepi Pelanggan Sol Sepatu Anak Sekolah di Masa Pandemi, Berharap Ada Yang Bantu Belikan Kaki Palsu.

Rasi Fm – Pandemi covid 19 membuat Mbah Gunadi (58) warga Desa Tamanan Kabupaten Magetan harus lebih giat lagi membanting tulang dari pekerjaannya sebagai tukang jahit sepatu keliling. Selama pandemi covid 19 ditambah dengan Penerapan PPKM Darurat membuat pelanggan mbah Gunadi yang kebanyakan adalah anak anak sekolah dan ibu ibu rumah tangga dimana selama pandemic tidak ada anak anak sekolah yang masuk, sehingga tidak ada sepatu rusak yang harus dijahit.
“Anak sekolah yang banyak sepatunya rusak. Kadang sehari bisa dapat satu atau dua pasang, kalau sandal 10 ribu kalau sepatu 15 ribu. Itupun ada yang menawarkan 12 ribu. Mau gak mau ya gimana tetap saya kerjakan. Kadang tidak dapat sama sekali, ” Ujarnya.
Mbah Gunadi merupakan disabilitas dimana kaki kanannya harus diamputasi karena kecelakaan ditabrak mobil pada tahun 1995. Kaki kanan Mbah Gunadi terpaksa diamputasi karena hancur, sementara kaki kirinya harus dioperasi penyambungan tulang. Tulang bahu kanan Mbah Gunadi juga mengalami pergeseran yang membuat dia kesulitan melakukan aktifitas. Keseharian mbah Gunadi selain keliling menjahit sepatu juga membuat sejumlah mainan dari limbah plastik. Membuat kaligrafi bahkan sempat keliling menjual balon untuk ulang tahun.
“Saya pakai sepeda, ketika ada angkudes menabrak. Saya tidak ingat selama 2 minggu. Dokter bilang ke saudara saya ini harus dipotong, ” Imbuhnya.
Pasca kecelakaan Mbah Gunadi sempat membeli kaki palsu di Kota Solo untuk menunjang aktifitasnya berjualan. Namun seiring perjalanan waktu, kaki palsu miliknya mulai rusak karena pernah jatuh dari sepeda motor yang dia gunakan untuk keliling berjualan balon dan mainan. Kaki palsu tersebut saat ini mulai sulit digunakan setelah beberapa kali mengalami kerusakan. Mbah Gunadi hanya bisa memperbaiki ala kadarnya karena untuk membeli kaki palsu baru tak ada lagi uang tersisa dari keliling menjahit sepatu.
“ini sudah rusak. Sudah saya coba perbaiki sebisa saya tapi tetap seperti ini. Kadang bagian bawah ini muter,” Ucapnya.
Saat ini mbah Gunadi hanya bisa pasrah. Keliling menjahit sepatu sepi, jika dapat satu atau 2 pasang sepatu pendapatannya pasti habis untuk kebutuhan makan. Meski demikian Mbah Gunadi tak pernah putus asa. Dia mengaku akan tetap berusaha mencari rejaki agar bisa memiliki lagi kaki palsu agar tidak kesulitan berjalan untuk mencari rejeki. (DmS)

Baca Juga:  Dukung Program Pemprov Jatim Bebas Pasung 2023 Pemkab Magetan Berangkatkan 11 ODGJ Ke RSJ Menur Surabaya Untuk Perawatan

 815 total views,  3 views today