Budaya & Pariwisata
Video Viral Keributan di Telaga Sarangan, Pengunjung dan Pemilik Warung Bersitegang Soal Nasi Pecel Keliling
Published
9 bulan agoon
By
rasinews
RASI MAGETAN – Sebuah video berdurasi 58 detik yang memperlihatkan keributan antara pengunjung Telaga Sarangan dengan pemilik warung kembali viral di media sosial. Dalam video tersebut, sejumlah pengunjung yang mengenakan baju merah bersitegang dengan seorang ibu-ibu pemilik warung, hanya karena membeli nasi pecel dari pedagang keliling.
Keributan itu dipicu oleh teguran dari pemilik warung yang merasa keberatan karena pengunjung membeli makanan dari pedagang pecel gendong yang sempat berhenti melayani. “Saya yang beli itu, ibu itu dagangnya di situ, ibu warungnya di sebelah situ kan,” ujar seorang pengunjung berbaju pink dalam video yang beredar luas.
Sementara itu, ibu-ibu yang diduga pemilik warung menegaskan bahwa pedagang keliling dilarang berhenti di area sekitar telaga. “Ini peraturan bahwa tidak boleh, itu KTA keliling magrok (berhenti) itu tidak boleh,” katanya dengan nada tinggi.
Pengunjung lain yang juga membeli nasi pecel membela pedagang keliling dan menegaskan bahwa pedagang hanya berhenti sebentar karena sedang melayani pembeli. “Itu berhenti tadi karena melayani kami,” ucapnya.
Namun sang pemilik warung tetap bersikukuh bahwa ia sudah meminta pedagang tersebut untuk pindah demi menjaga keadilan bagi pelaku usaha yang membuka warung tetap. “Ya sudah, kalau sudah melayani saya suruh pindah. Soalnya kasihan yang membuka warung,” imbuhnya.
Menanggapi kejadian ini, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Magetan, Eka Radit, menyampaikan bahwa saat ini belum ada peraturan resmi dari pemerintah daerah yang melarang pedagang keliling berhenti melayani pembeli di kawasan Telaga Sarangan.
“Telaga Sarangan ini kawasan terbuka, menyatu dengan pemukiman dan menjadi sumber kehidupan bagi sekitar 4.000 pelaku wisata. Mulai dari tukang perahu, tukang kuda, tukang foto, hingga pedagang sate dan nasi pecel keliling,” jelas Eka melalui sambungan telepon, Sabtu (2/8/2025).
Eka juga menegaskan bahwa selama ini pengelolaan dilakukan berdasarkan kesepakatan antar pelaku usaha, bukan aturan tertulis. Namun ke depan, pihaknya akan menyusun regulasi resmi berupa Peraturan Bupati.
“Rencana ke depan kami akan menyusun Perbup tentang pengelolaan Telaga Sarangan. Semua akan dinaungi di perbup itu agar tidak ada lagi gesekan antar pelaku wisata,” ujarnya.
Untuk meredam konflik, Dinas Pariwisata telah meminta paguyuban pemilik warung dan pedagang pecel keliling untuk melakukan edukasi dan menjaga etika dalam berdagang. “Kuncinya adalah saling menghormati dan menjaga kenyamanan pengunjung,” tegasnya.
Keributan soal pedagang bukan yang pertama kali terjadi di Telaga Sarangan. Pada Juni 2021, video perkelahian antara pedagang sate keliling dan pemilik warung sempat viral dan berujung ke ranah hukum. Demikian pula pada Mei 2023, video larangan duduk di kursi aset pemda karena pengunjung tidak membeli makanan juga menjadi perbincangan hangat.
Selain itu, harga makanan di Telaga Sarangan pun beberapa kali dikeluhkan wisatawan. Pada Juli 2024, sebuah unggahan TikTok menyoroti tagihan makan sebesar Rp225.000 untuk tiga nasi goreng, satu capcay, tiga es jeruk, dan satu es teh. Bahkan, harga es teh Rp15.000 di salah satu warung juga sempat menjadi viral di akhir November 2024.
Keluhan lain soal sampah berserakan di kawasan telaga pada pagi hari juga sempat mencuat di awal Januari 2024 lalu.
Dengan berbagai kejadian tersebut, pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah tegas dan membuat regulasi yang berpihak pada semua pihak—terutama demi kenyamanan pengunjung yang menjadi tulang punggung pariwisata Telaga Sarangan. (DmS)
1,336 total views, 6 views today


