Connect with us

Politik & Pemerintahan

Terima Keluhan IGD Penuh, Anggota DPRD Provinsi Jatim Minta RSU Sayidiman Bangun Barak dan Shelter

Published

on

Selama Masa PPKM Darurat Omset Pedagang Makanan Kaki Lima di Magetan Turun Hingga 50 Persen

Rasi Fm – Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur Diana Amaliyah Verawatiningsih atau biasa dipanggil Sasa menghimbau Rumah Sakit Umum Daerah Magetan membangun barak dan shelter untuk menampung pasien karena ruang IGD yang saat ini selalu penuh. Dengan adanya barak penanganan screening awal akan membantu masyarakat mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan mereka sehingga masyarakat bisa mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan dirumah dengan advis dokter atau akan melakukan perawatan dan bagi pasien bergejala berat bisa mengantri di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
“Ketika IGD penuh itu kan ada solusi solusi yang dilakukan misalnya membuka tenda barak IGD kan banyak dilakukan juga di rumah sakit rumah sakit di ibukota gitu yang didepan IGDnya dibuat para untuk penanganan skrining awal di situ. Atlist minimal masyarakat itu mendapat informasi. Bagaimana kondisi pasien gejala ringan sedang atau berat Kalau ringan bisa disuruh pulang dengan penanganan begini begini begini minum vitamin ini ini ini gituan kalau sedang mungkin bisa diletakkan di rumah sakit darurat itu meskipun saya tahu di rumah sakit darurat ketersediaan oksigen juga masih kurang gitu tapi atlist masyarakat tenang ketika dekat dengan layanan kesehatan kita berada di rumah sakit itu kan ada kenyamanan tersendiri, nah kalau gejala berat itu kan kemudian bisa diantrikan,” ujarnya.
Politisi PDIP ini mengaku banyak menerima keluhan dari warga terkait penuhnya kamar IGD yang membuat pasien terpaksa pulang tanpa mendapatkan kejelasan atas kondisi kesehatan mereka. Padahalnya menurut Sasa bed occupation rate Rumah Sakit Umum Sayidiman masih ada tersisa 15 sampai 20 persen dari kapasitas tempat tidur. Selain di Kabupaten Magetan Sasa mengaku banyak mendapatkan keluhan warga dari Ngawi, Madiun dan Ponorogo yang terpaksa pulang tanpa mendapat perawatan di rumah sakit karena IGD yang penuh.
“ Ketika sampai di IGD rumah sakit, IGD di itu kan sudah penuh nah masyarakat yang datang itu kemudian langsung disuruh balik itu dibilang penuh. Dan itu nggak 1 atau 2 banyak sekali gitu. Padahal kalau saya lihat laporan itu bad ocupationnya itu Magetan masih selalu ada tersisa 15 sampai 20% artinya antara laporan di atas kertas dengan fakta lapangan Ini kan berbeda ini tidak hanya di Magetan saja tapi sampai di Madiun bahkan Ponorogo dan juga Ngawi itu sama. Banyak pasien yang sampai pindah-pindah rumah sakit mencari pengobatan mencari penanganan itu tidak mendapat tempat kadang baru masuk itu sudah disuruh pulang Nah disuruh pulang ini adalah satu masalah tersendiri menurut saya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Alami Penurunan Kesehatan Usai Wukuf, Satu Jemaah Haji Asal Magetan Meninggal Dunia.

Sasa berharap pihak rumah sakit memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat sehingga masyarakat memiliki informasi yang cukup untuk mengambil langkah tindakan yang dibutuhkan jika memang IGD penuh. Pihak rumah sakit juga dihimbau memberikan rujukan yang jelas kepada masyarakat jika kondisi IGD memang benar benar penuh sehingga mereka mendapat layanan kesehatan di rumah sakit lainnya. (DmS).

Baca Juga:  Tingkatkan Kesadaran Bahaya Peredaran Rokok Ilegal, Sat Pol PP Kabupaten Magetan Sasar Pendengar Radio

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM