Connect with us

Magetan's

Pembicaraan Dengan PDAM Soal Mata Air di Pekarangannya, Mbah Mintarsih Menunggu Anaknya Pulang Dari Jakarta

Published

on

Pembicaraan Dengan PDAM Soal Mata Air di Pekarangannya, Mbah Mintarsih Menunggu Anaknya Pulang Dari Jakarta

Rasi Fm – Mbah Mintarsih Samsriati (75) warga Desa Sidomulyo Kabupaten Magetan mengaku menunggu anaknya yang bekerja di Jakarta pulang untuk melakukan pembicaraan dengan PDAM Magetan terkait sumber air di pekarangannya. Ditemui dikebunnya saat mencangkul pekarangan untuk bertanam jahe, Mbah Mintarsih mengatakan, dalam satu hingga 2 hari ini anaknya yang bekerja membuka warung di Cipete Jakarta akan pulang untuk melakukan pembicaraan dengan PDAM. Selama ini Mbah Mintarsih tinggal sendiri di rumahnya di Desa Sidomulyo.
“Kolo wingi tirose niku bidal, tasek ngentosi yotro ngoten tirose. Pak e PDAM dek wingi nggeh ngoten, mangke nek putrane mpun dugi mangke sanjang pak Mahidin (pegawai PDAM), mengke Mahidin kersane dateng PDAM. Mangke keputusane enten sing enem mawon mas. (Kemarin ngomongnya mau berangkat, masih menunggu uang. PDAM kemarin juga mengatakan, kalau anak saya pulang suruh bilang ke Pak Mahidin nanti biar memberitahu PDAM. Nanti keputusannya sama anak saya),” ujarnya.
Pada tahun 1995 Mbah Mintarsih mengaku jika kepala Desa Sidomulyo saat itu menjanjikan akan memberikan 1 ekor sapi kepada mbah Mintarsih sebagai tali asih karena sumber mata air yang berada di pekarangannya akan dimanfaatkan untuk sumber air PDAM. Namun seiring berjalannya waktu hingga Kepala Desa Sidomulyo turun dari jabatan dan meninggal, Mbah Mintarsih tak pernah menerima sapi yang dijanjikan tersebut. Saat ini Mbah Mintarsih menyerahkan pembicaraan terkait sumber air dipekarangannya yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air warga kepada anaknya.
“Niku Pak Lurah bu njenangan manut mawon niki mbenjeng tahun songo wolu kaleh Pak Harto disukani lembu mengke mbenjeng njenengan kulo sukani setunggal. Nggeh ngantos sakniki mboten wonten. (Itu pak lurah bilang menurut saja bu. Nanti tahun 98 sama Pak Harto akan dikasih sapi. Nanti ibu saya bagi satu. Sampai sekarang tidak ada),” imbuhnya.
Sebelumnya Mbah Mintarsih menceritakan jika dirinya sempat diancam Camat Plaosan Galuh yang akan memenjarakan dirinya jika dirinya tidak mengijinkan sumber mata air yang ada dipekarangan miliknya dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan air PDAM. Pada tahun 1995 Mintarsih mengaku hanya pasrah terhadap ancaman tersebut.
Sementara itu, PDAM Lawu Tirta Magetan saat ini telah membentuk 3 tim untuk mencari tahu kebenaran cerita Mbah Mintarsih. Direktur PDAM Magetan Choirul Anam mengaku akan menyelesaikan persoalan yang terjadi pada tahun 1995 tersebut secara bijak. Dia mengatakan perusahaan milik pemerintah daerah tidak akan pernah menzolimi warga. Menurutnya ada informasi dari tahun 1995 yang selama ini tidak diketahui oleh PDAM. Dia memastikan seluruh penggunaan sumber air yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan air warga, harus melalui aturan hukum yang berlaku. (DmS).

Baca Juga:  Jangan Dikupas, Kulit 4 Buah Ini Justru Mengandung Banyak Zat Baik Bagi Tubuh

 369 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *