Connect with us

Politik

Mengenal Mbah Umar, Pelaku Sejarah Pertempuran 10 November 1945.

Published

on

Mengenal Mbah Umar, Pelaku Sejarah Pertempuran 10 November 1945.

Mengenal Mbah Umar, Pelaku Sejarah Pertempuran 10 November 1945.

Rasi Fm – Salah satu pelaku sejarah pertempuran heroik 10 November 1945 di Kota Surabaya adalah Mbah Umar yang saat ini telah berusai 92 tahun. Mbah Umar yang saat pensiun berpangkat Pelda mengaku sempat tidak lolos seleksi dan akan pulang ketika mendaftarkan diri menjadi tentara pada Bulan Agustus tahun 1945, karena saat itu tinggi badannya hanya 155. Namun tekadnya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan membuat Mbah Umar diterima menjadi tentara. Mbah Umar yang tinggal di Jalan Bromo Kabupaten Magetan merupakan seorang prajurit yang baru saja lulus dari pendidikan di Sekolah Calon Tamtama di Magetan ketika dikirim ke Surabaya untuk mempertahankan Ibu Kota Pemerintahan Provinsi yang saat itu di pimpin oleh Gubernur Suryo yang juga berasal dari Kabupaten Magetan.
“Dedekku (tinggiku) kurang mung 155, aku jane ditolak karo wong telu kok dipanggil meneh. Pak Umar kembali kon suruh dicek kesehatan. Mbiyen sing ngekir jenengen pak Hub,” ujarnya.
Selama 3 bulan Mbah Umar menjalankan tugas melaksanakan pertempuran di Surabaya baik pertempuran disiang hari maupun pertempuran gerilya yang lebih banyak dilakukan malam hari. Tidak mudah melawan tentara Belanda yang membonceng Pasukan Inggris dengan persenjataan rampasan dari tentara belanda maupun tentara Jepang sementara Tentara Belanda dan Inggris yang dilengkapi dengan persenjataan yang modern pada saat itu. Berkat kegigihan TNI dan masyarakat yang bahu mambahu membantu pasukan TNI kedaulatan Negara Republik Indonesai akhirnya bisa dipertahankan.
“Mbiyen karaben kui 2, karaben belanda karo kareben jepang. (pinten dinten perange enten Surabaya?) Suwi, korbane okeh, lha wong kono alate komplit soko montor mabur ono, invanterinne enek, soko laut enek. Dari morak marik ora karuan,” imbuhnya.
Diusia senjanya mbah Umar mengalami 3 kali kecelakaan dimana 2 kali menjadi korban tabrak lari yang membuat Mbah Umar kesulitan beraktifitas. Padahal Mbah Umar biasanya suka sekali mengayuh sepeda pancal keliling Kota Magetan. Meski menjadi korban tabrak lari mbah Umar tida pernah mengeluh. Mbah Umar ikhlas menerima kecelakaan tersebut sebagai cobaan. Saat ini mbah Umar lebih banyak beraktifitas dirumah saja karena sepeda ontel yang dimilikinya digantung demi keamanan mbah Umar untuk menghindari kecelakaan tabrak lari lagi. (DmS).

 70 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *