RASI MAGETAN – Lima anak berkebutuhan khusus terlihat gemulai menari mengiringi alunan musik yang tak mereka dengar. Sesekali mereka menatap tajam Indriana Dian Kristanti yang berdiri berjarak 10 meter dari panggung yang memandu gerakan meraka menyesuaikan dengan ritme lagi. Setelah berlatih hampir 5 bulan, tampilan pertama mereka di depan khalayak umum menjadikan momentum bahwa mereka juga bisa. “Mereka anak yang luar biasa, 4 kali sudah bisa menguasai gerak dan menselaraskan dengan nada musiknya,” ujar Indriana sang pelarih dari sanggar WHY Sebature Magetan Selasa (5/8/2025).
Indriana menambahkan, kelima penari dimana 3 diantaranya merupakan anak dengan disabilitas pendengaran, 1 anak dengan syndrom clybralpalsi dan satu anak mengalami gangguan perkembangan motorik membutuhkan waktu hingga 5 bulan agar bisa membawakan tari semut yang menirukan gerakan binatang kecil yang menggemaskan. Dibutuhkan kesabaran tinggi untuk melatih anak anak agar bisa membawakan tari semut di atas panggung. “Satu hari itu kadang hanya bisa belajar satu gerakan. Kalau pas lagi gak mut kadang tidak ada gerakan yang dipelajari, tapi kalau mereka lagi mood seharian mereka tidak mau berhenti,” imbuh Indriana sambil tertawa.
Kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk menampilkan tarian mereka juga masih butuh kesempatan lebih banyak lagi agar mereka bisa mengembangkan bakat seni mereka. “Semoga semakin banyak kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus menampilkan kepiawaian mereka menari karena mereka membutuhkan kesempatan menampilkan apa yang mereka bisa lakukan,” ucap Indriana.
Menari menjadi kegiatan melatih kognitif dan motorik anak berkebtuuhan khusus.
Ketua Yayasan Yagama Kabupaten Magetan Dita mengatakan, kegiatan menari menjadi kegiatan terapi bagi belasan anak berkebutuhan khusus yang mereka asuh. Kegiatan menari juga sebagai ajang ekspresi bakat dan minat mereka. “Kita rutin melakukan latihan setiap hari Sabtu dan Minggu untuk memberikan kesempatan mereka mengembangkan bakat dan minat mereka,” ujarnya.
Latihan menari menurut Dita juga agar anak memiliki soft skill yang akan menambah ketrampilan mereka dalam olah gerak tubuh. Tari yang diajarkan kepada anak anak berkebutuhan khusus merupakan upaya melatih koordinasi antara syaraf motorik dan kognitif. Gerak tari yang diajarkan juga sebagai bentuk mengajarkan pentingnya bersosialisasi dan bekerjasama dengan teman lainnya untuk menghasilkan koreografi yang indah. “Kegiatan tari sebagai pengenalan dunia seni juga sebagai media yang menyenangkan dalam pembelajaran. Kita bukan memaksa mereka professional menari, yang penting anak itu suka dulu. Kalau suka senang itu nggak usah diperintah itu pasti bisa dan mau menari bisa mempersingkat durasi proses latihan tidak butuh berapa minggu, yang penting moodnya keluar mereka seneng pasti materi itu masuk ke mereka,” katanya.
Sementara pemilik sanggar WHY Sebature Wahyu mengatakan, pemilihan tari semut yang diajarkan juga merupakan pengajaran kepada anak anak berkebutuhan khusus untuk mengenalkan bagaimana gerak semut yang dibalut dengan keindahan gerak. Gerakan Tari semut yang dipilih selain dekat dengan dunia anak anak juga gerakan yang mudah ditiru dan dipraktekkan anak-anak berkebutuhan khusus. “Tari semut diambil dari tingkah laku semut gerakan semut kostumnya juga seperti semut. Tapi yang berbeda ada beberapa gerakan disini kita permudah agar mereka bisa mengikuti materi tersebut,” katanya.
Jasmine salah satu penari yang lebih sedikit bergerak terlihat turun dari panggung dengan senyum sumringah. Sedikitnya gerakan Jasmine karena dia kesulitan mengikuti instruksi dari Indriana disebabkan jauhnya tempat instruktur. “Jasmine mengalami low fision sehingga agak kesulitan mengikuti gerakan dari instruktur. Biasanya jaraknya tak lebih dari 7 meter dari penari,” kata Fitri salah satu pengurus Yayasan Yagama (DmS)