RASI FM – Dua kali Kabupaten Magetan diguyur hujan deras namun dipastikan belum berpengaruh terhadap penambahan volume air Telaga Sarangan. Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Yuli Karyawan Iswahyudi mengatakan, hujan dimasa transisi belum bisa berpengaruh terhadap ketinggian elevasi air di Telaga Sarangan, dimana sampai saat ini ketinggian elevasi air di Telaga Sarangan masih berada di kisaran 10 meter.
“Belum bisa kita ukur secara signifikan, belum setiap hari. ini kita anggap masa transisi belum masuk musim hujan. Kemarin sudah mulai di kurangi air yang keluar dari telaga. Kemarin terakhir elevasi 10,” ujarya.
Yuli menambahkan, ketinggian elevasi air di Telaga Sarangan diperkirakan akan kembali normal dengan ketinggian elevasi 14,5 meter pada Bulan Februari hingga Bulan Maret tahun 2025 mendatang dimana telah musim hujan dengan intensitas hujan setiap hari. Saat ini di musim peralihan musim kemarau ke musim hujan intensitas hujan masih belum mempengaruhi ketinggian elevasi Telaga Sarangan.
“Untuk ngisi sampai full itu perkiraan kita sampai Bulan februari – Maret. Kalau hujannya setiap hari mungkin lebih cepat, tapi estimasi kita kisaran Bulan Februari – Maret Telaga Pasir sudah kembali ke elevasi 14,5 meter,” imbuhnya.
Untuk menjaga Keamanan Telaga Sarangan, BBWS DAS Solo melakukan penutupan pintu air Telaga Sarangan sejak tanggal 28 September 2024 kemarin karena operasional giling tebu di Pabrik Gula Rejosari telah berakhir. Penutupan pintu air telaga Sarangan juga untuk meningkatkan elevasi air agar bisa mendukung kegiatan pariwisata di Magetan.
“Pabrik gula sudah selesai tinggal bersih bersih infrastruktur sebelum ditutup. Mudah mudahan dengan ditutup nanti pasriwisata naik lagi, kalau Telaga Pasir airnya habis wisatawan pasti menanyakan, kan telaga pasir yang dijual selain keindahan pemandangannya juga ketinggian air telaga pasir,” katanya.
Terkait kebutuhan irigasi untuk pertanian warga Yuli memastikan jika kebutuhan pengairan petani telah tercukupi karena dimasa transisi musim hujan petani telah beralih ke tanaman palawija yang tidak membutuhkan air terlalu banyak. Warga juga masih bisa mengajukan pembukaan pintu air ke BBWS DAS Solo jika diperlukan. (DmS)