Ekonomi
APTR PG Redjosarie Minta Harga Tebu Naik, Petani Tertekan Biaya Produksi Karena Krisis Energi.
Published
2 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG Redjosarie Kabupaten Magetan mendesak pemerintah menaikkan harga anjuran pembelian tebu menyusul meningkatnya biaya produksi akibat krisis energi dan inflasi. Ketua APTR PG Redjosarie, Hendrat Subyakto mengatakan, kenaikan harga sangat dibutuhkan agar petani tetap mampu menutup biaya garap.“Kami mohon, biar kita bisa menaikkan harga anjuran pembelian petani. Yang sebelumnya Rp14.500, bisa diangkat Rp14.800 sampai Rp15.000,” ujarnya.
Ia menegaskan, kenaikan tersebut penting untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi yang kini dirasakan petani. Menurutnya, salah satu komponen biaya yang naik signifikan adalah pupuk non-subsidi. “Karena ini untuk meng-cover dampak dari kenaikan krisis energi. Ini juga nanti akan berpengaruh terhadap biaya garap kami. Pupuk non-subsidi itu sudah naik, per kilo sekitar Rp500. Itu yang biasa kita gunakan untuk pemupukan tebu,” katanya.
Tak hanya pupuk, biaya lain seperti plastik dan operasional tebang angkut juga ikut meningkat. Kenaikan biaya tenaga kerja juga menjadi persoalan serius karena ketersediaan tenaga semakin terbatas. Menurut Hendrat, minimnya minat generasi muda membuat sektor tebang angkut kekurangan tenaga kerja. “Tenaga juga dipastikan naik, karena memang secara pertumbuhan ekonomi selalu ada inflasi. Bahkan sekarang tenaga tebang angkut mulai berkurang. Generasi baru itu sudah tidak banyak yang mau masuk ke bidang tebang angkut,” ujarnya.
Sulitnay mencari tenaga tebang berdampak pada biaya tebang angkut yang mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding tahun lalu. “Kalau dikalkulasi, biaya tebang angkut dari tenaga saja sudah naik sekitar Rp2.000 per kuintal, dari sebelumnya Rp9.000,” jelasnya.
Hendrat berharap pemerintah segera merespons kondisi tersebut dengan menaikkan harga anjuran pembelian tebu.“Kami berharap dengan kalkulasi kenaikan tersebut, pemerintah bisa menaikkan harga anjuran pembelian,” katanya.
Luas lahan tebu di wilayah PG Redjosarie di musim giling tahun 2026 diproyeksikan mengalami kenaikan luasan dibandingkan tahun 2025. “Kalau Rejosari, tahun kemarin sekitar 3.200 hektare, target tahun ini bisa mencapai 3.700 hektare,” pungkasnya.
135 total views, 3 views today


