RASI MEDIA – Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Kabupaten Magetan mencatat sebanyak 49 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Juli 2026. Mayoritas kebakaran terjadi di lahan, terutama kebun tebu, seiring meningkatnya aktivitas panen pada musim kemarau.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Magetan Ali Soekomto mengatakan, jumlah penanganan kebakaran meningkat signifikan dibandingkan awal tahun. Bahkan dalam sehari, petugas bisa menangani dua hingga tiga kebakaran lahan. “Kalau musim kemarau memang sangat meningkat sekali, terutama kebakaran lahan tebu. Dari Januari sampai Juli ini total ada 49 kejadian kebakaran dan yang paling banyak adalah lahan tebu,” kata Ali, Selasa (22/7/2026).
Menurut Ali, sebagian besar kebakaran lahan dipicu ulah manusia. Selain puntung rokok yang dibuang sembarangan, kebakaran diduga sengaja dilakukan saat musim panen tebu. “Kalau lahan tebu kebanyakan memang ada unsur kesengajaan. Ada yang iseng membakar, ada juga karena puntung rokok. Tetapi kebanyakan memang ada kesengajaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, praktik membakar lahan sebelum panen masih dilakukan sebagian orang dengan anggapan dapat mempermudah proses pemanenan. Padahal, tindakan tersebut justru berpotensi memicu kebakaran yang meluas. Selain kebakaran lahan tebu, Damkar Magetan juga banyak menangani kebakaran rumpun bambu yang berawal dari pembakaran sampah rumah tangga.
Ali mengatakan, warga kerap membakar sampah di sekitar rumpun bambu tanpa memperhatikan kondisi sekitar. Saat api membesar, kobaran dengan cepat merambat ke bambu kering hingga mengancam permukiman. “Biasanya warga membakar sampah, kemudian api merambat ke rumpun bambu. Mereka tidak melihat di sekitarnya ada rumah sehingga akhirnya api membesar dan kami dipanggil untuk melakukan pemadaman,” kata Ali.
Ia menambahkan, berbeda dengan periode Januari hingga April yang didominasi kebakaran akibat kelalaian saat memasak atau faktor human error, kebakaran pada Juni hingga Juli lebih banyak terjadi di lahan tebu karena memasuki musim panen. “Kalau Januari sampai April lebih banyak human error, misalnya memasak ditinggal. Sekarang yang dominan justru kebakaran lahan tebu karena musim panen,” ujarnya.
Berdasarkan perkiraan Damkar Magetan, luas lahan yang terdampak kebakaran selama musim kemarau mencapai sekitar lima hektare. Namun, angka tersebut bukan hasil pengukuran resmi karena petugas tidak melakukan pendataan luasan lahan secara detail.
Menghadapi kondisi tersebut, Ali mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dalam menggunakan api selama musim kemarau. Ia juga meminta petani maupun pengusaha tebu tidak membakar lahan sebelum panen. “Kami mengimbau masyarakat berhati-hati menggunakan api, jangan membakar sampah sembarangan, dan jangan meninggalkan kompor saat memasak. Untuk petani tebu, kami harapkan tidak membakar lahannya karena selain berisiko menimbulkan kebakaran, juga merugikan petani sendiri,” pungkasnya. .
Menurut dia, tebu yang dibakar sebelum dipanen akan mengalami penurunan kadar air sehingga bobot hasil panen berkurang. Kondisi tersebut menyebabkan nilai jual tebu ikut menurun saat ditimbang di pabrik gula. “Kalau tebu dibakar, kadar airnya turun sehingga timbangannya juga berkurang. Akibatnya harga jualnya menjadi lebih rendah,” ujar Ali.