Connect with us

News

Anggota DPR RI Riyono Caping Apresiasi Solar Rp15.000 per Liter untuk Nelayan, Ingatkan Pertamina Jamin Stok dan Distribusi

Published

on

Anggota DPR RI Riyono Caping Apresiasi Solar Rp15.000 per Liter untuk Nelayan, Ingatkan Pertamina Jamin Stok dan Distribusi

RASI MEDIA  – Anggota Komisi IV DPR RI Riyono mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menetapkan harga khusus bahan bakar minyak (BBM) solar sebesar Rp15.000 per liter bagi pengusaha nelayan. Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap nelayan yang selama ini terbebani tingginya biaya operasional saat melaut.

“Pertama, tentu kebijakan ini patut kita apresiasi. Ini merupakan bentuk keberpihakan Presiden kepada nelayan. Jeritan nelayan akibat lonjakan harga BBM akhirnya didengar,” kata Riyono dalam keterangannya, Minggu (20/7/2026).

Baca Juga:  Disdikpora Magetan Seleksi Kepala Sekolah Baru, Empat Guru Gugur Karena Belum Penuhi Syarat

Meski mengapresiasi kebijakan tersebut, Riyono mengingatkan keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh penetapan harga, tetapi juga kepastian ketersediaan stok dan kelancaran distribusi hingga benar-benar diterima nelayan. Menurut dia, subsidi sebesar Rp3.600 per liter harus mampu menjaga keberlangsungan usaha perikanan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

“Subsidi Rp3.600 per liter harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha perikanan agar mampu menjaga produktivitas dan keberlanjutan sektor ini,” ujarnya.

Riyono juga meminta Pertamina mengawal penyaluran kuota BBM harga khusus bagi nelayan agar tepat sasaran. Ia menekankan kuota sebanyak 400.000 ton harus dipastikan tersedia, mulai dari stok hingga rantai pasok di lapangan, sehingga dapat dinikmati nelayan pemilik kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT).

Baca Juga:  Cek SPBU, Polres Magetan Pastikan Stok Aman Dan Tak Temukan BBM Campur Air.

“Kuota 400.000 ton dengan subsidi Rp3.600 per liter harus diamankan oleh Pertamina. Mulai dari stok hingga rantai pasoknya harus dipastikan berjalan lancar sehingga benar-benar sampai kepada nelayan pemilik kapal berukuran 30 hingga 200 GT,” tegasnya.

Menurut Riyono, tingginya harga BBM dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan aktivitas penangkapan ikan menurun di sejumlah wilayah perairan, seperti Laut Natuna Utara, Maluku, Laut Jawa, hingga Papua. Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga buruh kapal dan masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.

Baca Juga:  Putri Isa Bajaj Diduga Dapat Kekerasan di Lapangan Basket Alun Alun Magetan, Hari Ini Lapor polisi

“BBM menyumbang sekitar 60 persen biaya operasional nelayan. Karena itu, kita harus memastikan sektor hulu perikanan, mulai dari penangkapan, pengolahan, hingga ekspor hasil perikanan, terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Riyono.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM