Connect with us

News

Salah Satu Warganya Hilang, Warga Ponorogo Gelar Tradisi Buk-Buk Teng.

Published

on

Salah Satu Warganya Hilang, Warga Ponorogo Gelar Tradisi Buk-Buk Teng.

 

RASI MEDIA – Suara kentongan bercampur suara besi dipukul terdenga di gelapnya  malam di Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Irama “teng… teng… teng…” terdengar berulang, mengalun dari besi yang dipukul sejumlah warga. Mereka  berjalan beriringan melintasi jalan desa, pematang sawah, hingga tepian hutan. Di bawah cahaya senter dan lampu seadanya, mereka tidak sekadar mencari, tetapi juga menjalankan tradisi lama yang dipercaya turun-temurun, buk-buk teng .

Tradisi itu kembali dilakukan warga setelah Adi Saputra (14), pelajar asal dukuh setempat yang dilaporkan hilang sejak Hari Jumat (6/2) kemarin. Hingga saat ini remaja tersebut belum diketahui keberadaannya.  Tradisi pencarianorang hilang dengan cara buk-buk teng cepat menyebar di media sosial. Salah satunya adalah unggahan yang viral di  akun Instagram @infoponorogo, yang memperlihatkan sejumlah warga melaksanakan buk buk teng. “Iki proses goleki wong ilang kanthi cara tradisional buk buk teng. Kronologine enek bocah jenenge Adi, wingi awan metu saka omah ora balik nganti wengi akhire digoleki warga. Semoga lekas ketemu,” tulis akun tersebut.

Baca Juga:  Ratusan Warga Magetan Serbu Sembako Pasar Murah Disperindag Provinsi Jatim.

Video berdurasi 51 detik itu menampilkan suasana malam yang riuh. Warga membawa kentongan, lampu senter, dan alat seadanya. Mereka berjalan sambil memukul kentongan berulang-ulang. Di sela suara “teng-teng-teng”, terdengar seseorang berseru, “Balik le… ngendi kowe?” suara warga terdengar kontras dengan gelapnya malan dan cahaya senter yang menyapu sejumlah sudut mencari keberadaan Adi.

Kepala Desa Bulu Lor, Agus Siswanto, mengatakan, warganya melakukan tradisi buk buk teng adalah upaya mencari keberadaan Adi setelah keluarga lapor polisi. Keterangan keluarga Adi dalam laporan  resmi ke  Polsek Jambon, Adi terakhir kali terlihat meninggalkan rumah pada hari Jumat sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah pulang dari sekolah, ia sempat diketahui berganti pakaian dengan kaos olahraga SMPN 1 Jambon dan celana panjang biru dongker. Setelah itu, keberadan Adi tak diketahui  tanpa pamit dan tanpa mengenakan alas kaki. “ Keluarga baru melapor ke polisi pada Sabtu (7/2) setelah pencarian mandiri tidak membuahkan hasil,” ujarnya ditemui di rumahnya Minggu (8/2/2026)

Baca Juga:  Pemkab Magetan Upaya Pulangkan TKI yang Berangkat Ilegal ke Guinea Khatulistiwa, Afrika Tengah

Kabar hilangnya Adi dengan cepat menyebar ke warga lainnya di Desa Bulu Lor. Warga yang mendengar kabar tersebut kemudian langsung ikut membantu melakuakn pencarian dengan melakukan buk buk teng. “ Warga langsung ikut membantu. Mereka menelusuri kebun, ladang, hingga jalur-jalur setapak yang biasa dilalui anak-anak desa sini,” imbuh Agus Siswanto.

Warag Desa Bulu Lor selian mencari keberadan Adi yang hilang di lokasi yang dimugkinkan didatangi anak anak, merek ajuga mencari di lokasi  yang dipercaya lokasi wingit. Seperti di sekitar kawasan Midodareni, lokasi yang diyakini warga sebagai tempat keramat di dekat hutan dan pegunungan.  Mereka terus memukul kentongan dan besi , menyalakan senter, dan berjalan berkelompok. Beberapa warga yang lebih tua memimpin jalur pencarian, sementara yang lain mengikuti sambil memanggil nama Adi berulang kali.

Di Bulu Lor, buk-buk teng bukan sekedar ritual. Warga memaknainya sebagai ikhtiar lain ketika pencarian biasa tidak lagi membuahkan  hasil. Suara kentongan dan besi yang dipukul bertalu talu dipercaya mampu “mengusik” makhluk tak kasat mata yang mungkin membawa orang yang hilang. “Berdasarkan adat desa sini, dilakukan buk-buk teng. Harapannya, kalau memang dibawa makhluk halus, penunggunya akan terganggu oleh suara gaduh itu, sehingga anaknya segera dibebaskan,” ujarnya.

Baca Juga:  Soal Pencemaran Dari Kampung Susu Lawu, DPRD Magetan Akan Gelar Rapat Dengar Pendapat.

Bagi warga, tradisi itu bukan sekadar soal kepercayaan. Ia juga menjadi cara untuk mengumpulkan kekuatan bersama. Malam itu, tidak ada yang tinggal diam di rumah. Para pemuda berjalan paling depan, membawa kentongan dan senter. Ibu-ibu menunggu di rumah, menyiapkan minuman hangat bagi warga yang pulang dari pencarian.

Beberapa warga mengaku baru kali ini buk-buk teng kembali digelar setelah sekian lama. Tradisi itu biasanya dilakukan jika ada kejadian yang dianggap tidak wajar. Karena itulah, hilangnya Adi dengan mengenakan kaos olahraga SMPN 1 Jambon, celana biru dongker, tanpa sandal dengan tinggi badan 163 cm, rambut pendek keriting, kulit putih bersih, membuat suasana desa diliputi kekhawatiran. “Warga jadi lebih was-was. Semua berharap Adi segera ditemukan dalam keadaan selamat,” kata Agus salah satu warga.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM