Legalitas
Program Gentengisasi, Membuka Harapan Ditengah Pendapatan yang Pas Pasan di Desa Genteng Magetan.
Published
3 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Jalanan di Desa Gulun, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur masih basah karena hujan baru saja reda siang itu. Sukardi tampak mendorong gerobak sorong yang penuh dengan bekas abu pembakaran dari tobong miliknya. Hari ini tetangganya Suwarno akan membakar 8.000 biji genteng miliknya. “ Mau dipakai bakar genting pak Suwarno. Katanya ada 8.000 genting sesuai kapasitas tobong. Untuk sewa tobongnya sekali pembakaran Rp 200.000,” katanya sambil mendorong gerobak sorong abu pembakaran miliknya Senin (9/2/2026).
Musim hujan jadi kendala produksi.
Suwarno (65) salah satu pengrajin genting terlihat mengawasi sejumlah pekerja yang menyusun genting mentah miliknya ke dalam bangunan tobong. Dia mengaku butuh waktu 3 bulan untuk bisa mengumpulkan 8.000 genting mentah untuk dibakar. “ Musim hujan susah kering. Satu hari paling hanya bisa produksi 300 an genting. Untuk pengeringan butuh waktu 3 hingga 5 hari agar mencapai kekeringan maksimal. Hujan terus selama ini,” katanya.
Musim hujan juga menjadi kendala bagi pengrajin genting lainnya Sutaji (73) . Dari alat pres manual tua yang dia gunakan hanya mampu membuat sekitar 200 biji genting setiap hari dengan dibantu oleh anak laki lakinya dan istrinya.” Keterbatasan alat press dan lokasi menampung genting basah di musim hujan. Sehari hanya mampu 200 biji karena lokasi untuk mengangin anginkan genting terbatas. Setidaknya butuh 2 hari diangin anginkan sebelum dijemur.Penjemuran di musim hujan bisa 2 hari lebih,” katanya.
Kesulitan Modal.
Sutaji mengaku untuk produksi 7.000 genting atau satu kali pembakaran dia mengaku setidaknya butuh modal Rp 4 juta rupiah. Sebagai pengrajin genteng mandiri dia mengaku kesulitan mengembangkan usahanya.” Dulu tahun 1980 an waktu hampir seluruh warga buat genting ada bantuan peralatan, bantuan modal dan pelatihan dari pemerintah. Sekarang tidak ada sama sekali,” imbuhnya.
Untuk membuat sekitar 7.000 genting dibutuhkan 4 dumb truk tanah lempung yang didatangkan dari luar desa dimana tanah lempung 1 dumbtruk dibeli seharga Rp 350.000. Proses selanjutnya adalah membuat tanah lempung diolah dengan menyewa molen untuk adukan antara tanah lempung dan campuran pasir agar menjadi lebih padat dan liat. Proses berikutnya baru dilakukan pencetakan genting dengan press manual dan pengeringan hingga pembakaran. “ Kalau hujan begini kami hanya bisa membakar genting itu 3 hingag 4 bulan sekali. Artinya keuntungan yang tidak seberapa itu dibagi lamanya waktu ya hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari,” ucap Sutaji yag membiarkan 2 anaknya merantau ke luar kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. “ Anak saya yang terakhir yang bantu karena kasihan bapaknya kerja sendiri dan ibunya juga sakit sakitan,”
Program Gentingisasi Jadi Harapan.
Desa Gulun sendiri terkenal dengan desa genting sejak tahun 1950 an karena 75 persen warganya bekerja sebagai pengrajin genting. Namun tahun ini tercatat ada 700 kepala keluarga yang menggantungkan hidup sebagai pengrajin genting dari 1.493 kepala keluarga yang tercatat di kantor desa.” Ya separuh kepala keluarga disini bekerja sebagai pengrajin genting sejak sekitar tahun 1950 an. Jumlah tersebut sudah tergolong menyusut drastis karena anak mudanya lebih memilih bekerja di luar kota,” kata Lila yang menjabat Kepala Dusun Desa Gulun.
Terkait adanya program gentingisasi oleh Presiden Prabowo Subiyanto, Lila mengaku belum ada informasi lebih lanjut dari pemerintah Kabupaten Magetan. Dia mengaku tidak ada program khusus bagi warga pengrajin genting di desanya. Menurutnya program tersebut masih wacana. “ Itu masih wacana karena belum ada perintah dari kecamatan. Kalau pendataan setiap tahun ada,” imbuhnya.
Sugiono (48) pengrajin genting lainnya Desa Gulun mengaku ada harapan jika Presiden Prabowo mencanangkan program gentingisasi. Dia mengaku jika pembangunan KDKMP di Magetan yang merupakan program strategis nasional menggunakan genting, ada peluang 235 bangunan menggunakan genting. “ Kalau program itu serius ada peluang bagi pengrajin menjual genting mereka ke 235 pembangunan KDKMP. Tapi bangunan KDKMP di desa sini saja pakai gavalun,” ujarnya sambil tertawa.
Maraknya penggunaan gavalun untuk bangunan menurut Sugiono sangat mempengaruhi pangsa pasar genting buatan warga Desa Gulun. Belum lagi tidak adanya pembinaan dari pemerintah terhadap pengrajin genting di desanya juga menjadi kendala bagi Desa berjuluk desa genting tersebut untuk bisa berkembang. “ Selama ini kita jalan sendiri. Permodalan juga jalan sendiri. Inovasi seperti alat cetak kita juga jalan sendiri dari meniru ditempat lain. Kita bahkan tidak punya kelompok atau koperasi untuk warga pembuat genting,” ucapnya.
Sistem Ijon di Produksi Genting.
Menurut Suwarno, pengrajin genting di Desa Gulun harus berkutat dengan permodalan untuk bisa bertahan dari memproduksi genting. Sulitnya permodalan membuat warga terpaksa menjual murah genting buatan mereka.” Kalau musim hujan seperti ni ada yang menjual genting itu Rp1 juta 100 perseribunya. Itu jual rugi karena di musim hujan permintaan menurun, pekerjaan proyekpun juga macet. Karena kebutuhan bayar cicilan bank tidak bisa ditunda ya jual murah akhirnya,” katanya.
Sebagian warga yang tak lagi memiliki lahan pertanian dan hanya mengandalkan produksi genting menurut Suwarno harus pasrah dengan sisten ijon. Dimana warga hutang modal produksi kepada pengusaha atau pengepul genting yang kemudian akan dibayar setelah produksi genting siap dijual. Sistem tersebut tetap merugikan pengrajin karena harga jual akhirnya tetap dibawah pasaran. “ Pekerjaan kita ya hanya buat genting. Kalau tidak punya modal ya ngutang dulu ke pengepul atau pengusaha, karena mau ngutang ke bank pasti sulit. Bayarnya nanti setelah genting sudah siap jual. Harganya tetap dibawah pasaran,” jelasnya.
Meski tak bisa berharap banyak, adanya program gentingisasi yang dilontarkan Presiden Prabowo diharapkan akan berdampak banyak bagi pengrajin genting di Desa Gulun. Sugiono mengaku berharap semakin banyak permintaan genting sehingga pembuat genting di desanya memiliki kepastian penjualan. “ Selama ini jualnya pakai online atau ada pembeli datang ke sini. Paling jauh sempat kirim ke Cianjur, tapi paling banyak ke wilayah Bojonegoro. Kalau banyak permintaan karena ada program gentingisasi tentunya kita tidak susah jual gentingnya,” ujar Sugiono.
Bagi Sutaji program gentingisasi bisa membuat dirinya memperbarui peralatan produksi dan perluasan usaha sehingga anak ke 3 yang memilih bertahan di desa dengan membuat genting memiliki masa depan yang lebih jelas.” Ini alat pres sudah dipakai sejak tahun 90 an dan butuh perbaikan. Dengan alat pres yang menggunakan hidrolik tentunya produksi meningkat dan anak saya bisa hidup lebih layak dengan kerja membuat genting,” katanya.
Meksi tak bisa berharap banyak terhadap program Gentingisasi, namun Suwarno menyambut dengan senang program tersebut. Kepiawaian yang diturunkan oleh nenek moyang mereka dalam membuat genting sebetulnya sangat menanti kehadiran sentuhan pemerintah melalui pendampingan maupun pembinan agar bisa bersaing dengan produk genting produksi pabrikan.” Membuat genting itu satu satunya kebisaan kita. Harapan saya ada kehadirna pembinaan dari pemerintah agar pengrajin genting bisa bertahan, bahkan bisa bersaing. Semoga program gentingisasi itu bisa berdampak di desa kami,” harapnya.
483 total views, 18 views today


