RASI FM – Kementerian Sosial Republik Indonesia mendatangi rumah Muhammad Hasan Nurdin (6), Anak dari Eko warga Desa Sidowayah, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang mengalami osteogenesis imperfecta (OI), adalah penyakit genetik langka di mana kondisi tersebut ditandai dengan tulang yang rapuh dan lemah sehingga mudah patah. Peksos Madya Kementerian Sosial Republik Indonesia Sri Widayati mengatakan, Kementerian Sosial akan memberikan dukungan kelanjutan terapi bagi Hasan ke RS Moewardi Solo serta pengajuan penerima bantuan iuran BPJS karena selama ini Eko menggunakan BPJS mandiri untuk pengobatan Hasan.
“Untuk kelanjutan terapi sejak usia nol sampai sekarang dan kontrolnya sebulan sekali ada ketersediaan transport. Sementara untuk BPJSnya kita koordinasikan dengan Dinas Sosial untuk PBI,” ujarnya ditemui di rumah Eko Selasa sore (28/5/2024).
Kementerian Sosial juga akan memberikan fasilitas terapi pengobatan bagi adik Hasan yang juga mengalami pengecilan otak bagian kiri dengan melakukan terapi di rumah terapi yang dikelola oleh Dinas Sosial Kabupaten Magetan yang menggandeng Yayasan Yagama.
“Adiknya yang mengalami pengecilan otak terapinya di rumah sakit swasta, sekarang kita alihkan ke rumah terapi yang ada di Magetan sehingga tidak ada biaya terapi. Nanti juga akan diberikan bantuan gizi dan kebutuhan lain seperti pampers dan lainnya,” imbuh Sri Widayati.
Tak hanya kepada Hasan yang mengalami osteogenesis imperfecta dan Muhammad Miftahul Asaufi yang mengalami pengecilan otak kiri, Kementerian Sosial juga memberikan bantuan modal bagi usaha Eko berjualan pentol dan cilok keliling. Kementerian Sosial akan membelikan peralatan untuk pembuatan pentol dan peralatan untuk berjualan keliling yang digunakan Eko.
“Untuk bapaknya yang berjualan pentol dan cilok kita akan bantu peralatan untuk pengembangan usaha orang tua Hasan,” katanya.
Tak bisa jalan, Hasan gunakan mainan mobil untuk bergerak.
Hasan yang mengalami osteogenesis imperfecta mengalami kesulitan untuk sekedar merangkak, sehingga menggunakan mainan mobil mobilan miliknya untuk sekedar keliling di ruang tamu rumahnya. Namun kebiasaan tersebut juga membahayakan Hasan, karena saat terjatuh tangan Hasan sangat rentan mengalami retak atau patah.
“Pakai mainan mobil mobilannya kalau mau bergerak, tangannya pernah patah karena jatuh. Saat ini tangan kanannya juga masih dipasang pen karena mengalami pembengkokan. Kalau kakinya pakai gibs ini karena retak kemarin,” kata Eko.
Sementara anak keduanya yang mengalami pengecilan otak sebelah kiri menurut Eko saat ini ditipkan kepada kakek dari pihak istrinya untuk mengurangi resiko cidera Hasan, karena ketika kedua bersama sama Hasan lebih sering mengalami cidera.
“yang adik dititipkan ke kakeknya di Desa Kalang karena kalau keduanya disini, kakaknya di dorong saja bisa cidera,” kata Eko.
Eko mengaku terbantu dari Kementerian Sosial dengan bantuan terapi gratis dan bantuan transportasi setiap melakukan terapi ke RS Moewardi Solo. “Sangat membantu karena BPJS gratis dan transportasi ke Solo sekarang juga dibantu. Bulan depan sudah ada jadwal untuk terapi Hasan sehingga tidak repot lagi,” kata Eko.
Bantuan peralatan untuk usaha pentol dan cilok menurutnya Eko juga sangat membantu untuk meningkatkan perekonomiannya mengingat sejumlah peralatan jualan yang digunakan saat ini sudah banyak yang rusak. “Banyak peralatan jualan yang sudah rusak, payung jualan juga rusak, kotak penyimpan cilok dan pentol juga sudah rusak. Alhamdulillah dibantu dibelikan yang baru, kulkas, kompor buat masak, semua sangat membantu saya,” ucapanya.
Sebelumnya Eko warga Desa Sidowayah, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, yang memiliki 2 anak berkebutuhan khusus harus banting tulang untuk bisa membawa anaknya menjalani terapi ke RS Moewardi Solo secara mandiri. Keluarga tidak mampu tersebut baru tahun kemarin diusulkan untuk masuk DTKS untuk mendapatkan penerima bantuan iuran BPJS agar bisa meringankan beban mereka. Sayangnya sampai saat ini data keluarga Eko belum bisa masuk data DTKS. Saat ini Eko juga harus merawat kedua anaknya sendiri, karena istrinya yang pamit pergi untuk mencari kerja ke Surabaya hingga kini tidak ada kabarnya. (DmS)