Connect with us

Politik

Belajar Dari Mbah Suwarno D, Kelompok Tani Yang Tak Pernah Kekurangan Kuota Pupuk Bersubsidi Karena Transparansi

Published

on

Belajar Dari Mbah Suwarno D, Kelompok Tani  Yang Tak Pernah Kekurangan Kuota Pupuk Bersubsidi Karena Transparansi

Belajar Dari Mbah Suwarno D, Kelompok Tani  Yang Tak Pernah Kekurangan Kuota Pupuk Bersubsidi Karena Transparansi

Rasi Fm – Carut marutnya pengelolaan pupuk dimana petani mengeluhkan kesulitan pupuk sebenarnya tidak perlu terjadi jika pengelolaan penyaluran pupuk dilakukan dengan benar. Adalah Mbah Suwarno D, bendahara kelompok tani Pandak Maju Desa Cepoko Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan petugas titik pembagi pupuk bagi 2 kelompok tani yang berhasil membuktikan pengelolaan penyaluran pupuk bersubsidi yang benar membuat 700 petani di desanya tak pernah mengeluhkan kekurangan pupuk bersubsisi. “Namanya kelompok tani itu harus tahu wilayahku ki berapa hektar to. Aku ki nek diteri pupuk Karena pupuk ki 50 persen dari subsidi yang dicukupi pemerintah harus pandai pandai ngatur carane piye? Ditulisi,” ujarnya.
Selaku petugas titik pembagi Suwarno D mengetahui persis berapa jumlah anggota kelompok tani yang dilayani dan berapa jumlah luas lahan sawah yang mendapat jatah pupuk bersubsidi. Semua data tersebut tersusun rapi di kios pembagi pupuk bersubsidi milik Suwarno D. Kios milik Mbah Suwarno bukan kios penyalur, namun difungsikan sebagai tempat menampung sementara dan membagi pupuk bersubsidi bagi 700 petani. Setiap desa menurutnya memiliki titik pembagi. “ Siapa kelompok tani yang mau mendekatkan pupuk kepada petani. Terus akhire setiap desa itu ada. Kios itu namung nebus terus drop.” Imbuhnya.
Untuk mendapatkan data real jumlah luasan lahan petani, Suwarno D turun langsung ke petak sawah petani. Berbekal sebungkus rokok, Suwarno melakukan pendekatan kepada petani melakukan pendataan luasan lahan petani dan menghitung kebutuhan pupuk bersubsidi sehingga seluruh petani mendapatkan hak mereka akan pupuk bersubsisi. “Kulo mubeng niki mboten kok kulo ngundang tiyang . Kulo ten sabin golek data pertama. Sore ngoten nggowo rokok sak adah, ayo jadumean. Kulo tekoni nduwor dewe sawahe sopo, sawah e niki mbah, isore sawah e niki. Lha kae sak kotak wong loro sopo karo sopo, niki kaleh niki. Tulis, konsep ko omah kulo tulis neng buku,” kisahnya.
Di kios titik pembagi pupuk bersubsidi milik Suwarno D tersebut petani dengan mudah menemukan SK camat Panekan terkait jumlah kuota pupuk bersubsidi bagi 2 kelompok tani. Petani bahkan juga bisa mengetahui jumlah kuota pupuk bersubsisi yang telah disalurkan setiap bulan di kios pembagi. Suwarno juga mencatat pengeluaran pupuk bersubsisi setiap bulan serta sisa kuota pupuk yang masih tersisa dimana setiap bulan dia melaporkan ke petugas dinas pertanian di Kecamatan Panekan. “Kulo laporan setiap bulan, niki rekapitulasi pendistribusian pupuk bersubsidi tahun ini desa Cepoko. Niki format kulo piyambak. Pengiriman dari kios kulo tulis dasare niki, pendistribusian penjualan ke petani tenane realnya berapa, kalau terjadi sisa pupuk yo kulo tulis ureane sisane piro ini. Dalam satu bulan” katanya.
Tidak hanya mencatat jumlah pupuk bersubsisi dari kios penyalur saja, Suwarno D juga begitu detail mencatat jumlah kuota pupuk bersubsidi yang diambil oleh setiap petani. Suwarno juga mencatat detail sisa kuota pupuk bersubsidi setiap petani sehingga petani tidak bisa sembarangan mengambil pupuk, karena kecenderungan petani enggan menggunakan pupuk jenis tertentu. Catatan tersebut merupakan upaya untuk mencegah kekurangan pupuk jenis tertentu karena petani lain kelebihan mengambil pupuk. “Misdi, punya 5 petak hanya 1 hektar koma nol lima. Olehe ke iki. Mboten iso kulo diapusi. Satu musim tanam kok rene pindo lha kowe dek mben wis tuku. Niko kurang mbah. Kirang golek liyo, lha iki lho catetanmu. We engko nek tak doli nyowok lek e wong liyo,” jelasnya.
Dengan pembukuan yang baik membuat Suwarno D berhasil meyakinkan kepada petani akan hak mereka mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Pembukuan yang baik juga bisa meminimalisir penyelewengan kuota pupuk bersubsisi oleh oknum tertentu. Baik oleh kios maupun oleh petani yang meminta jatah jenis pupuk tertentu lebih banyak dari kuota.
Sayangnya eksistensi pembagi pupuk seperti Mbah Suwarno D justru terancam dengan diberlakukannya kartu tani, dimana untuk pemantauan pengambilan pupuk subsidi oleh petani pemilik kartu tani hanya bisa diberlakukan di kios penyalur pupuk. Pemantauan pengambilan pupuk bersubsidi nantinya melalui alat gesek elektronik yang hanya dimiliki oleh kios penyalur pupuk.
Saat ini pemberlakuan kartu tani yang direncanakan per 1 September juga ditunda hingga tahun mendatang. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Magetan dari 90.000 petani di Magetan baru 3.000 kartu tani yang dicetak.(DmS)

Baca Juga:  Tangani ODGJ, Puskesmas Ngariboyo Punya Kader Hingga Desa

 259 total views,  6 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *