RASI MAGETAN – Peringatan Hari Ibu menjadi momentum refleksi dan penguatan peran orang tua, khususnya para ibu yang mendampingi anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Magetan. Dalam kegiatan komunitas penyandang disabilitas yang digelar bertepatan dengan Hari Ibu, para orang tua menyuarakan harapan agar anak-anak mereka dapat tumbuh mandiri, percaya diri, dan diterima sepenuhnya di tengah masyarakat.
Para ibu menyampaikan bahwa mendampingi anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, ketulusan, serta dukungan lingkungan. Mereka berharap anak-anaknya mampu bersosialisasi dengan nyaman tanpa rasa malu dan takut. Kegiatan bersama komunitas dinilai memberi ruang aman bagi anak untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan mengenal keberagaman. “Dengan kegiatan seperti ini, anak ketemu banyak orang, belajar komunikasi, dan harapannya dia bisa diterima masyarakat serta berkembang,” kata Farra Orang Tua Jasmin.
Dalam bidang pendidikan, para orang tua menilai kemampuan baca tulis dasar tetap penting. Namun, keterampilan praktis menjadi kebutuhan utama bagi masa depan anak berkebutuhan khusus. Para ibu berharap pemerintah memberikan perhatian lebih melalui pelatihan keterampilan yang sesuai dengan potensi anak, seperti seni tari, seni rupa, dan keterampilan kreatif lainnya.
Salah satu anak disabilitas yang tampil dalam kegiatan tersebut adalah Jasmine, bocah berusia delapan tahun yang mulai belajar menari sejak pindah dari Semarang pada tahun ini. Meski masih terlihat malu-malu, Jasmine telah beberapa kali tampil menari dalam kegiatan komunitas. Orang tuanya berharap kesempatan tampil terus diperluas agar kepercayaan diri anak semakin tumbuh. “Harapan saya ke depannya anak saya bisa mandiri buat dirinya sendiri, bisa bersosialisasi dengan nyaman, tidak malu dan tidak takut dengan orang sekitar,” ujarnya
Selain seni tari, potensi seni rupa juga ditunjukkan oleh Rio, remaja berusia 17 tahun yang memiliki minat kuat pada seni gambar dan desain. Rio mengembangkan teknik menggambar secara otodidak dengan pendampingan keluarga. Sang ibu berharap bakat anaknya dapat terus diasah melalui pelatihan dan kursus agar Rio kelak mampu hidup mandiri. “Harapan saya Rio bisa mandiri dan menggali potensinya. Dia suka menggambar dan desain, saya ingin mengembangkan ke arah itu,” kata Wartini orang tua Rio..
Kegiatan Hari Ibu tersebut juga dirangkai dengan peluncuran program sekolah kunjung atau home schooling bagi anak difabel yang tidak memungkinkan mengikuti pendidikan formal karena keterbatasan fisik. Program ini bertujuan memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi bagi seluruh anak, tanpa terkecuali.
Selain itu, komunitas Yagama yang melaksanakan kegiatan peringatan Hari DIsabilitas Internasional 2025 turut memperkenalkan buku berisi kisah inspiratif para ibu dan orang tua anak berkebutuhan khusus. Buku tersebut merekam perjalanan penerimaan, perjuangan, hingga kebangkitan para ibu dalam mendampingi anak-anak istimewa mereka, sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya inklusivitas. “Buku ini kami tulis supaya orang tua lain tahu bahwa mereka tidak sendiri dan anak-anak kami juga punya hak yang sama,” ujar Dita Ketua Yayasan Yagama.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, para orang tua berharap pemerintah dan masyarakat terus menjaga semangat inklusivitas, sehingga anak-anak disabilitas di Kabupaten Magetan memperoleh hak, fasilitas, dan kesempatan yang setara untuk tumbuh, belajar, dan berkarya.