Connect with us

Politik

Bangunan Plaza Kuliner dan Cinderamata Telaga Wahyu Mangkrak, Pedagang Mengaku Bangunan Terlalu Mewah

Published

on

Bangunan Plaza Kuliner dan Cinderamata Telaga Wahyu Mangkrak, Pedagang Mengaku Bangunan Terlalu Mewah

Bangunan Plaza Kuliner dan Cinderamata Telaga Wahyu Mangkrak, Pedagang Mengaku Bangunan Terlalu Mewah

Rasi Fm – Bangunan Plaza Kuliner dan Cinderamata yang dibangun pemerintah daerah Kabupaten Magetan di Destinasi Wisata Telaga Wahyu yang dibangun untuk mempercantik dan menyediakan lokasi kuliner dan souvenir bagi pengunjung terlihat mangkrak. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan Venly Tomi Nicholas mengatakan, mangkraknya bangunan plaza kuliner dan cinderamata dikarenakan pedagang enggan menempati bangunan tersebut. Pedagang beralasan bangunan plaza kuliner dan cinderamata terlalu mewah sehingga menurunkan niat pembeli untuk berbelanja makanan dan minuman.”Temen temen disitu saya suruh naik disituyang dibawah itu. Wis rasah mbayar nggonen, yo ra gelem. Karena kemewahen katanya, aneh to. Saya bingung jadinya musuh wong ngono kuwi. Yo untuk jualan biar nyaman, sehingga kalau air naik bisa jualan disitu,” ujarnya.
Venly menambahkan, dua bangunan yang dibangun 2 tahun lalu diduga tidak sesuai dengan konsep Telaga Wahyu yang seharusnya terbuka sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan telaga Wahyu sembari menyantap kuliner. Dia mengaku masih melakukan pengkajian terhadap 2 bangunan tersebut.“ Bagi mereka itu tidak seperti itu, terbuka itu sebetulnya lebih nyaman. Didalam saja saya merasa pengap. Mungkin salah satunya mereka ingin terbuka, sementara kita belum bisa memaksimalkan fungsi Telaga Wahyu. Sebetulnya sudah ada master plannya, tetapi tanah disitu bukan tanah kita semua,” imbuhnya.

Sementara Endang salah satu pedagang yang sudah 10 tahun berjualan makanan di Telaga Wahyu mengaku bangunan gedung kuliner yang dibangun pemerintah daerah tersebut justru mengganggu pemandangan bagi pengunjung. Meski sempat difungsikan oleh 10 pedagang, namun karena sepi pembeli mereka memilih berjualan dengan cara membangun tempat jualan di pinggir telaga. Endang mengaku dari 10 pedagang menjual saat ini hanya bertahan 4 pedagang. “Dulu ramai, setelah ada bangunan malah sepi karena orang lewat tidak melihat. Dulu sempat jualan disitu ada 10 pedagang tapi tidak laku. Sekarang tinggl 4 yang jualan dipinggir telaga dengan membangun bangunan terbuka,” katanya.

 40 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *