RASI MAGETAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan mencatat 108 kasus HIV sepanjang tahun 2025. Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Magetan, Agus Yudi Purnomo , menilai angka tersebut masih dalam batas kewajaran, namun tetap menjadi perhatian serius karena mencerminkan fenomena sosial yang kompleks. “ Masih kewajarannya. Tapi secara umum, angka ini cukup memprihatinkan karena 50 saja sebenarnya sudah tinggi,” tegas Agus.
Agus menjelaskan, dari total 108 kasus tersebut, kelompok ibu hamil tercatat sebanyak lima orang dan calon pengantin (catin) sebanyak 18 orang. Sisanya berasal dari berbagai kelompok, termasuk Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan kelompok berisiko lainnya. “Yang terbanyak memang beragam. Ada LSL, ada yang dari kelompok berbeda-beda. Sebarannya merata,” jelasnya.
Pada kelompok catin, Agus menemukan sebagian besar berasal dari pernikahan kedua atau ketiga. “Profilnya rata-rata bukan pernikahan pertama. Sebelumnya memang ada faktor perilaku berganti-ganti pasangan,” ungkapnya.
Pendampingan dan pengobatan tersedia di semua puskesmas
Agus menegaskan, seluruh puskesmas di Magetan kini sudah memiliki layanan PDP (Pendampingan dan Pengobatan). Pasien yang bersedia terbuka akan mendapatkan pendampingan konseling hingga terapi antiretroviral (ARV). “Jika mereka tidak menutup diri dan mau datang ke puskesmas, kami melakukan pendampingan dan pengobatan rutin. Harapannya viral load terkendali sehingga risiko penularan berkurang,” ujarnya.
Ia menambahkan, ARV diberikan secara gratis seumur hidup, namun menggugah kesadaran pasien untuk rutin melakukan cek kesehatan menjadi tantangan tersendiri. “Minum obat seumur hidup itu tidak mudah. Makanya kami tekankan pentingnya kesadaran dan keterbukaan,” katanya.
Ibu hamil hiv, risiko bisa ditekan
Agus menjelaskan bahwa screening pada ibu hamil rutin dilakukan dan hasilnya menentukan langkah selanjutnya. Dengan viral load yang terkendali, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi dapat ditekan hingga level rendah. Ia juga menjelaskan bahwa ibu dengan HIV tetap dapat menyusui selama viral load terkontrol.“Jika viral load rendah, ibu bisa menjalani persalinan aman tanpa risiko besar menularkan HIV. Biasanya disarankan melalui operasi sesar,” paparnya.
Stigma masih jadi hambatan utama
Menurut Agus, stigma sosial masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganan HIV di Magetan. Banyak pasien yang masih menolak terbuka, terutama kepada pasangan.”Pemberitahuan pasangan harus berdasarkan kerelaan pasien. Kami tidak bisa memaksa. Ini sangat sensitif,” jelas Agus.
Untuk mengurangi hambatan itu, Dinkes memaksimalkan pendampingan sebaya melalui komunitas yang ada. Pendamping sebaya bertugas meningkatkan kesadaran pasien dan membantu proses konseling.
Agus menekankan bahwa pemberantasan HIV tidak dapat diselesaikan hanya melalui sektor kesehatan. Tingginya angka kasus merupakan dampak dari masalah sosial yang lebih luas, termasuk perilaku berisiko dan rendahnya edukasi. “Ini perlu dukungan semua pihak. Kami di kesehatan hanya bisa melakukan pendampingan, konseling, dan pengobatan,” tutupnya.