Connect with us

News

Transfer Embryo Jadi Harapan Baru Perbaikan Bibit Sapi Pasca Wabah PMK di Magetan.

Published

on

Transfer Embryo Jadi Harapan Baru Perbaikan Bibit Sapi Pasca Wabah PMK di Magetan.

RASI MAGETAN – Teknologi reproduksi pada ternak terus berkembang. Salah satunya adalah Transfer Embryo (TE), sebuah metode untuk meningkatkan mutu genetik sapi dengan memanfaatkan bibit jantan dan betina unggul. Dengan teknologi ini, anak sapi yang lahir diharapkan membawa sifat-sifat terbaik dari kedua induknya, meski dilahirkan oleh sapi betina lain sebagai resipien.

Sejak tahun 2023, Kabupaten sudah menjalin kerja sama dengan Balai Besar Embryo Transfer (BBET) Cipelang, Jawa Barat. Program ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2016, pernah dilakukan percobaan pada tiga sapi, dua di antaranya berhasil melahirkan anak sapi, sementara satu ekor anak meninggal saat proses kelahiran.

Baca Juga:  PMD Magetan Sudah Lakukan Pembinaan Penggunaan Aset Desa Soal Sepeda Motor Plat Merah Yang Dijadikan Jaminan Rental, Sekdes Bisa Terseret Kasus.

“Di tahun 2023, ada sekitar 16 resipien yang sudah di-TE. Tahun berikutnya, 2024, kami coba pada 11 ekor sapi, tapi memang hanya sebagian yang berhasil. Tingkat keberhasilannya masih rendah karena banyak faktor yang memengaruhi,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan Nur Haryani.

Nur Haryani menambahkan, faktor-faktor itu antara lain syarat ketat bagi sapi donor maupun resipien, biaya yang cukup tinggi, hingga perlunya tenaga ahli serta peralatan medis khusus. Meski demikian, program ini tetap dilanjutkan karena dianggap solusi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas ternak sapi di Kabupaten Magetan.

Apalagi pasca merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), populasi sapi di Kabupaten mengalami penurunan tajam. Dari sekitar 117 ribu ekor di tahun 2020, jumlah sapi kini tersisa sekitar 69.800 ekor pada akhir 2024. Kondisi ini diperparah dengan kasus PMK yang masih ditemukan hingga awal 2025. “Kesulitan mencari bibit ternak yang bagus semakin terasa. Maka Transfer Embryo ini menjadi salah satu solusi memperbaiki bibit yang ada,” tambahnya.

Baca Juga:  Pendaki Gunung Lawu Asal Kediri Dilaporkan Hilang.

Dibanding inseminasi buatan (IB), TE jelas lebih unggul. Jika IB hanya mengandalkan sperma pejantan unggul untuk membuahi induk biasa, maka TE langsung memanfaatkan embrio hasil pembuahan pejantan dan betina unggul. Resipien hanya berperan sebagai “penitip” embrio, mirip konsep bayi tabung pada manusia.

Baca Juga:  Operasikan 3 Mobil Gerai Vaksin, Polres Magetan Siap Vaksin 1.500 Warga Setiap Hari.

Meski biaya masih relatif tinggi, program ini mulai dikenalkan ke peternak. Dinas Peternakan pun berencana mengawal program TE mandiri tahun 2025, dengan target 45 sapi resipien. Pelaksanaannya direncanakan pada September–Oktober 2025, tetap bekerja sama dengan BBET Cipelang dan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah. “Harapannya dengan TE ini, kita bisa menghasilkan bibit sapi unggul, baik sapi perah maupun potong. Produksi lebih tinggi, reproduksi lebih baik, dan tentu kualitas genetik lebih terjaga,” pungkas Nur Haryani. (DmS)

VISUAL NEWS klik

 350 total views,  3 views today