Connect with us

News

Poltekkes Kemenkes Surabaya dan FPRB Magetan Perkuat Desa Ngelang, Tekan Risiko Krisis Kesehatan Bencana

Published

on

Poltekkes Kemenkes Surabaya dan FPRB Magetan Perkuat Desa Ngelang, Tekan Risiko Krisis Kesehatan Bencana

 

RASI MEDIA – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Magetan menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Ngelang dengan fokus pemberdayaan kapasitas menuju desa tangguh dalam menghadapi krisis kesehatan akibat bencana. Kegiatan ini tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga pelatihan teknis, pemetaan risiko, hingga penguatan kelembagaan masyarakat desa. Program ini dirancang untuk membekali warga agar mampu menghadapi bencana secara mandiri, mulai dari tahap pra-bencana, saat bencana, hingga pasca-bencana.

Dosen dan Peneliti Poltekkes Kemenkes Surabaya , Heru Santosa Wahito Nugroho, menyampaikan bahwa Desa Ngelang menjadi salah satu wilayah yang sudah cukup berpengalaman menghadapi bencana, terutama banjir dan dampak kesehatan yang menyertainya. “Kalau jumlah kegiatannya saya sudah tidak hafal, tapi setidaknya sudah lebih dari tiga kali. Khusus Desa Ngelang, masyarakatnya sudah sangat akrab dengan bencana, sehingga kami tinggal membantu menguatkan kapasitas mereka,” ujar Heru.

Baca Juga:  PHRI Magetan Sampaikan Keinginan Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Destinasi Wisata Telaga Sarangan.

Ia menjelaskan, penguatan kapasitas menjadi kunci utama dalam menurunkan risiko bencana. Menurutnya, risiko tidak hanya dilihat dari besar kecilnya bencana, tetapi juga dari kesiapan masyarakat dalam menghadapinya. “Kita membantu meningkatkan kapasitas supaya risiko yang dialami nanti bisa sekecil mungkin. Risiko itu sebenarnya bisa dihitung sebelum bencana terjadi,” katanya.

Heru memaparkan bahwa risiko bencana dapat dihitung secara matematis dengan mengombinasikan tiga komponen utama, yakni ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas.“Risiko itu dihitung dari hazard dikalikan kerentanan lalu dibagi kapasitas. Kalau ancaman besar, kerentanan tinggi, sementara kapasitas rendah, maka risikonya tinggi,” jelasnya.

Ia menyebutkan, skala risiko berada pada rentang 1 hingga 24. Berdasarkan hasil kajian awal, Desa Ngelang berada pada skor 12, yang masih masuk kategori risiko tinggi meski berada di batas bawah.“Dari hasil sementara, skornya di angka 12. Itu masih tergolong risiko tinggi, meskipun di batas bawah. Ini bisa diturunkan kalau kapasitas masyarakat ditingkatkan,” tegasnya.

Baca Juga:  Karyawan Lupa Matikan Tungku Tempat Memasak Air, Pabrik Kerupuk di Magetan Ludes Terbakar.

Lebih lanjut, Heru menekankan bahwa peningkatan kapasitas tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis masyarakat dalam mengenali dan menangani masalah kesehatan saat bencana. Ia juga mengingatkan bahwa pelatihan saja tidak cukup tanpa tindak lanjut yang berkelanjutan. “Kalau kapasitas meningkat, maka kerentanan bisa ditekan. Masyarakat harus mampu mengenali masalah kesehatan, menangani secara mandiri, sehingga dampaknya bisa diminimalkan. Pelatihan ini fase awal, tapi kuncinya tetap follow up. Tanpa itu, dampaknya tidak akan maksimal,” katanya.

Selain itu, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi antarwilayah yang memiliki karakteristik bencana serupa. Dengan pendekatan kawasan, desa-desa dengan risiko yang sama diharapkan dapat saling bekerja sama dalam penanggulangan bencana.

Sementara itu, mahasiswa Prodi D3 Kebidanan Poltekkes Surabaya, Cantika dan Erika, menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini mahasiswa turut memberikan edukasi terkait kesehatan reproduksi saat bencana.“Kami memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang penanganan kesehatan reproduksi saat bencana, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia,” katanya.

Baca Juga:  Serahkan SK CPNS Seleksi Formasi Tahun 2020, 60 Persen Diisi Warga Magetan

Ia menegaskan bahwa kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam penanganan saat bencana, sehingga perlu dilakukan pendataan secara detail.“Kelompok rentan harus didata, sehingga kita tahu siapa yang harus ditangani lebih dulu saat bencana terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, proses mitigasi juga diawali dengan promosi kesehatan untuk membangun kesadaran masyarakat agar mampu mandiri.“Promosi kesehatan penting agar masyarakat bisa mandiri, mulai dari mengurus diri sendiri hingga membantu orang lain saat bencana,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Ngelang diharapkan tidak hanya memahami risiko bencana secara teori, tetapi juga mampu melakukan langkah konkret dalam menghadapi situasi darurat.“Harapannya masyarakat bisa mandiri dalam menghadapi krisis kesehatan akibat bencana, karena kita tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi,” pungkasnya.

 371 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *