Connect with us

Ekonomi

Khofifah Kenang Keberanian Gubernur Soerjo Pilih Melawan Sekutu Saat Ziarah,  Nilai Keberanian dan Cinta Bangsa Harus Diwariskan.


Published

on

Khofifah Kenang Keberanian Gubernur Soerjo Pilih Melawan Sekutu Saat Ziarah,  Nilai Keberanian dan Cinta Bangsa Harus Diwariskan.

 

RASI MEDIA  – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat mengenang keberanian Raden Mas Tumenggung (R.M.T.) Ario Soerjo atau Gubernur Suryo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama ketika Surabaya menghadapi tekanan pasukan Sekutu pada masa awal kemerdekaan. Ia  mengatakan, Gubernur Suryo memiliki peran penting  ketika dirinya mendapat mandat untuk menentukan sikap menghadapi ultimatum Inggris untuk menyerah kepada sekutu. “Kala itu Bung Karno menyerahkan keputusan kepada Gubernur Soerjo. Ini bukan perkara sederhana karena pertaruhannya adalah kemerdekaan yang baru saja kita raih,” ujarnya di komplek makam Gubernur Soerjo di Jl Salak Kabupaten Magetan Selasa (6/10/2026).

Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penghormatan kepada Gubernur Jawa Timur pertama, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo (Gubernur Suryo), merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangan dan keberaniannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut Khofifah, perjuangan Gubernur Suryo ketika menghadapi kedatangan pasukan Inggris di Jawa Timur bukanlah situasi yang sederhana. Saat itu, Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan sehingga mempertahankan kemerdekaan membutuhkan keberanian yang luar biasa. “Ini bagian dari penghormatan, sekaligus bagaimana bisa meneruskan perjuangan beliau di dalam konteks kejuangan ini,”Imbuhnya.

Baca Juga:  Bus Rombongan Wisata dari Semarang Jatuh di Jurang Jalur Sarangan - Cemoro Sewu, 7 Penumpang Tewas. 

Khofifah menilai, keberanian Gubernur Suryo dalam mempertahankan kemerdekaan dari tekanan pasukan Inggris harus menjadi refleksi bagi generasi saat ini. Semangat tersebut, kata dia, perlu diteruskan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.“Mempertahankan kemerdekaan Indonesia perlu keberanian, selain semangat juang,” Katanya.

Khofifah mengatakan, keputusan yang diambil Gubernur Suryo pada masa awal kemerdekaan menunjukkan keberanian seorang pemimpin dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Karena itu, saat berada di kawasan makam Gubernur Suryo, Khofifah berharap semangat perjuangan dan keberanian tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk mengisi dan menjaga kemerdekaan. “Harapan kita, napas perjuangan dan keberanian untuk menjaga kemerdekaan itu bukan menjadi negatif, tetapi menjadi semangat kita semua sebagai warga bangsa,” kata Khofifah.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengambil keteladanan dari kepemimpinan Gubernur Suryo, terutama keberanian dalam mengambil keputusan dan memimpin di tengah situasi sulit. “Kita semua menjadi bagian dari kepemimpinan yang kuat di sektor kita masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga:  Dari Batik Ecoprint Sebagai Sampingan, Pengusaha Batik Magetan Ini Bidik Pasar Konsumen Ramah Lingkungan

Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Makam Gubernur Suryo di Magetan menjadi salah satu lokasi yang rutin diziarahi Pemprov Jawa Timur menjelang Hari Jadi Provinsi Jawa Timur. Agenda tersebut menjadi momentum untuk mengenang sosok yang tercatat sebagai gubernur pertama Jawa Timur setelah Indonesia merdeka. Khofifah menilai keputusan Gubernur Suryo menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Sebab, pada saat itu pemerintah dan rakyat Indonesia menghadapi situasi yang sangat genting setelah kemerdekaan diproklamasikan. “Beliau membuktikan strong leadership atau kepemimpinan yang sangat kuat. Kalau kepemimpinannya goyah saat itu, bangsa ini bisa oleng,” imbuhnya.

Menolak ultimatum Inggris

Khofifah mengatakan, Gubernur Suryo memilih menolak ultimatum Inggris dan mendorong rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Sikap tersebut kemudian dikenang melalui pidato Gubernur Suryo yang disiarkan melalui radio menjelang Pertempuran 10 November 1945. Dalam pesan perjuangannya, Gubernur Suryo menegaskan bahwa bangsa Indonesia lebih memilih berjuang daripada kembali dijajah. Menurutnya, keberanian Gubernur Suryo dan para pejuang Surabaya menjadi bagian penting dari sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Ini adalah bagian dari refleksi bagaimana perjuangan para pendahulu kita. Semangat dan keberanian seperti ini harus terus kita rawat, terutama oleh generasi muda,” ucapnya.

Baca Juga:  Trancam, Salad Penambah Nafsu Makan Ayam Kampung Goreng Mbok Bejo dari Magetan.

Sejarah mencatat pertempuran di Surabaya pecah setelah ketegangan antara pejuang Indonesia dan pasukan Inggris semakin meningkat. Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby kemudian menjadi salah satu pemicu serangan besar pasukan Inggris pada 10 November 1945.

Perjalanan hidup Gubernur Suryo kemudian berakhir tragis pada 10 September 1948.

Ia menjadi korban penculikan dan pembunuhan di Kabupaten Ngawi ketika dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Madiun. Khofifah mengatakan, sejarah perjuangan Gubernur Suryo tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Menurutnya, nilai keberanian, keteguhan, dan kecintaan terhadap bangsa harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya. “Sejak menerima mandat di Pemprov, ziarah ke makam Gubernur pertama R.M.T. Ario Soerjo selalu saya pimpin langsung. Ini bentuk penghormatan sekaligus upaya merefleksikan semangat perjuangan beliau untuk konteks hari ini,” kata Khofifah.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM