Connect with us

Pendidikan

Gelar Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII, Ini Inovasi dan Praktek Baik Guru di Ponorogo.

Published

on

Gelar Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII, Ini Inovasi dan Praktek Baik Guru di Ponorogo.

RASI MAGETAN – Ratusan Guru di Kabupaten Ponorogo mengikuti Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII yang dilaksanakan di SMAN 1 Babadan, Ponorogo. Endah Sayekti Ketua Panitia Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kabupaten Ponorogo mengatakan, kegiatan yang dilakukan saat ini sangat penting untuk memberikan inspirasi kepada guru lainnya yang belum memiliki sistem pembelajaran seperti yang dilakukan guru guru yang telah melakukan inovasi dan praktek baik dalam pembelajaran. Dari 102 guru dari Kabupaten Magetan, Ponorogo., Madiun dan Ngawi yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan akan bisa menerapkan pembelajaran yang Mining Full Learning yaitu pembelajaran yang bermakna, dimana proses pembelajaran di lakukan dengan menyenangkan dan menjelaskan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan dengan dunia nyata sehingga siswa memahami apa yang dipelajari. “Ada chalenge peserta diberi kartu yang harus diberi stiker terkait materi kebiasaan baik yang sudah ditularkan oleh narasumber sehingga mereka sudah memiliki gambaran apa yang harus mereka lakukan saat mengajar siswa mereka nanti. Di akhir kegiatan dari pengumpulan stiker kita akan memberikan bibit pohon untuk ditanam sebagai praktek bagian dari tema iklim pendidikan dan pendidikan iklim yang kita laksanakan ,” katanya.

Baca Juga:  Ini Cara SMK Yosonegoro Peringati HUT ke 29 di Masa Pandemi

Beragam trik guru menghadapi siswa untuk memacu semangat belajar diungkap sejumlah guru di kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Darus Solikah guru Matematika di MTS Panjeng, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo menjadikan kebiasaan buruk siswanya yang membuang sampah melalui jendela hingga membuat sampah berserakan di sawah di belakang sekolah menjadi materi untuk menerangkan pelajaran aljabar. “Awalnya saya melihat anak anak ini membuang sampah ke sawah di belakang sekolah melalui jendela kelas, sehingga sampah tersebut berserakan. Sehingga saya ajak mereka melihat ke sawah tersebut dan bertanya bagaimana keadaan sawah tersebut,” ujarnya .

Darus kemudian menanyakan apa yang harus dilakukan dengan sampah yang berserakan tersebut. Siswa yang serentak menjawab dibersihkan dengan memungut sampah plastik, membuat dia terinspirasi untuk menjadikan materi sampah seperti gelas dan botol bekas air mineral serta sampah kertas yang dipisahkan menjadi rumus aljabar. “Sampah tersebut saya jadikan model dunia nyata ke bentuk matematika. Contoh, botol itu sama dengan X sementara untuk gelas plastik itu Y dan Z nya itu sampah kertas sehingga siswa lebih mudah untuk membayangkan rumus aljabar untuk mencari nilai yang belum diketahui atau memecahkan soal persamaan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Percantik Stasiun Magetan, Pemkab Magetan Bebaskan 50 Meter Rumah Warga.

Kenalkan program lingkungan lestari.
Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kabupaten Ponorogo juga menghadirkan pengalaman guru yang memiliki kegiatan penelitian dan inovasi lingkungan untuk mengatasi sampah. Salah satu inovasi yang berhasil dilakukan di SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur di Kota Madiun adalah karya ilmiah pemanfaatan limbah jerami dan bonggol jagung menjadi bahan plastik biodegradable atau plastik yang mudah terurai di dalam tanah. Hasil karya siswa tersebut bahkan menyabet medali emas di ajang Indonesian Young Scientist Association (IYSA) yang diselenggarakan oleh Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) yang ke-3 di Bogor beberapa waktu lalu. “Itu inovasi yang dilakukan siswa untuk membiasakan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dengan melakukan penelitian yang hasilnya bisa untuk menyelamatkan lingkungan sebagai bentuk pendidikan iklim yang digaungkan di Temu Pendidik ini,” ujar Umdatun Nafiah, guru pelajaran Matematika di SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur di Kota Madiun

Baca Juga:  2.000 Anak Sekolah di Magetan Telah Divaksin Covid 19, PTM Tetap 50 Persen

Praktek baik dengan memberikan pembelajaran yang tidak hanya sekedar teori juga diterapkan oleh Umdatun Nafiah. Untuk mengajak siswa lebih mudah belajar matematika, dia mengembangkan sebuah aplikasi permainan sederhana meski awalnya untuk membuat aplikasi tersebut dia tidak memahami bahasa pemrograman. Namun dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, dia berhasil membuat aplikasi permainan yang mengajak siswa berhitung matematika. “Ini masih model bagaimana menarik minat anak anak belajar matematika. Meski tidak memahami bahasa pemrograman, kita memanfaatkan kecerdasan buatan seperti Chat GPT untuk membuat bahasa pemrogramannya. Ini belum kami gunakan masih penyempurnaan, tapi ini menjadi contoh bagaimana tekhnologi bisa kita manfaatkan untuk membantu memecahkan permasalahan pendidikan,” katanya.

Kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kabupaten Ponorogo yang dihadiri oleh 32 kelas dengan masing masing narasumber juga menghadirkan psikolog anak, penggiat pelestari lingkungan dari komunitas pecinta alam Gempa Adventur Ponorogo juga diisi oleh tenaga kesehatan yang memberikan voucer layanan kesehatan yang berguna bagi guru untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. (DmS)

VISUAL NEWS klik

 647 total views,  3 views today